Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    Jun 09 2020

    John Legend dan Selebritas Lain Kritik Ketua DPR!

    Kawula Muda, para petinggi di Amerika Serikat mendapat kritik dari beberapa musisi karena salah memakai kain tradisional.

    John Legend (INSTAGRAM/JOHN LEGEND)

    Niat baik Juru Bicara DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi bersama anggota kongres Partai Demokrat saat berlutut menghormati George Floyd di Emancipation Hall, US Capitol, Senin (7/6/2020), menuai kontroversi.

    Aksi mereka dianggap kurang pantas karena mengenakan kain tradisional Kente, yang dikalungkan di leher mereka.

    John Legend salah satu yang mengomentari penggunaan kain tradisional khas Ghana oleh para politisi itu. Lewat akun Twitter @johnlegend, dia menyebut para anggota DPR Amerika sedang mempromosikan acara The Shermans Show.

    The Shermans Show merupakan sebuah acara komedi yang juga menampilkan acara musik dan akan tayang pada 19 Juni 2020 dalam rangka Black History Month Spectacular.

    “Kita memiliki perwakilan dari Anggota DPR Amerika Serikat sebagai juru bicara untuk mempromosikan @ShermansShow,” tulis penyanyi 41 tahun tersebut seperti dilansir Billboard.

    Nancy Pelosi dan rekan-rekan anggota DPR dari partai Demokrat itu berlutut selama 8 menit 46 detik, waktu yang sama ketika polisi Derek Chauvin menginjak leher Floyd hingga tewas.

    Aksi ini mereka lakukan jelang konferensi pers mengenai Undang-undang reformasi kepolisian, Justice in Policing Act of 2020.

    Musisi Questlove juga berkomentar soal aksi mereka. Sang musisi yang dalam akunnya diberi nama Trash That Rizzo Statue itu awalnya kaget melihat kain Kente dikalungkan di leher para politisi saat melakukan penghormatan itu.

    “Semua orang mengabari saya tentang foto kain Kente, saya harus memastikan sendiri untuk memastikan the Roots tidak mengerjai saya,” tulis Questlove. Roots adalah band tempat Questlove pernah bergabung.

    Alat politisasi

    Kain Kente  menurut peneliti Universitas Oxford, Jade Bentil, bukan untuk dikenakan para politisi. Peneliti berdarah Ghana dan Nigeria itu menegaskan bahwa setiap warna dalam kain khas itu memiliki arti penting.

    Warna emas kain melambangkan ketenangan, biru artinya harmoni, merah sebagai semangat, dan hitam adalah kesatuan.

    "Leluhur saya tidak membuat kain Kente supaya dipakai oleh para politisi yang haus publisitas sebagai aktivis pada 2020," kata Jade Bentil lewat aku Twitternya yang dilansir CNN.

    Sementara itu, jurnalis olahraga Yahoo, Charles Robinson, mengkritik keras penggunaan Kente. Menurut dia, kain ini dijadikan alat politisasi, sama halnya seperti Presiden Donald Trump berfoto di depan gereja sambil memegang Alkitab.

    “Berdiri di depan gereja sambil memegang Alkitab yang tak pernah kamu baca demi foto, tak ada bedanya dengan kamu mengenakan kain Kente yang tak pernah kamu pakai sebelumnya,” tulis Robinson dalam cuitannya.

    Editor Team

    COMMENT