Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    Nov 22 2022

    10 Alasan Mengapa Seseorang Bertahan di Toxic Relationship

    Lo punya pengalaman terjebak di toxic relationship gak, Kawula Muda?

    Ilustrasi hubungan retak akibat toxic relationship (UNSPLASH/KELLY SIKKEMA)


    Berada di sebuah toxic relationship tentu tidak mudah. Sayangnya, beberapa orang mengaku sulit untuk melepaskan pasangan dalam toxic relationship tersebut. 

    Namun, apa alasan untuk tetap mempertahankan hubungan yang ‘merugikan’ itu? Berikut beberapa kemungkinannya mengutip Youniversetherapy dan berbagai sumber lainnya, Kawula Muda!

    1. Tidak Mencintai Diri Sendiri

    Toxic relationshipIlustrasi toxic relationship (PEXELS/MART PRODUCTION)

     

    Seseorang yang tidak mencintai diri sendiri cenderung mudah masuk ke hubungan yang kasar dan toksik. Hal itu dikarenakan orang tersebut percaya bahwa ia tidak berharga dan tidak dapat menjadi individu yang lebih baik. 

    Pada tingkat yang lebih parah, seseorang yang tidak mencintai diri sendiri juga dapat saja berpikir bahwa ia tidak layak mendapat cinta yang indah. Karena itu, ketika berada di dalam hubungan beracun, ia tidak masalah bertahan di dalamnya. 

    2. Membandingkan dengan Pengalaman Lebih Buruk

    Seseorang yang sudah terbiasa dengan hubungan toksik bisa-bisa saja membandingkan hubungan tersebut dengan hal buruk yang sebelumnya telah ia alami. Misalnya saja ‘setidaknya ia tidak memukul saya’ serta ‘setidaknya ia meminta maaf dan kembali baik kepada saya, walau telah memukul saya sebelumnya. 

    Pengalaman tersebut pun membentuk gagasan bahwa cinta memang seharusnya menyakiti. Jika terus dibiarkan, lo akan terbiasa dengan hubungan toksik tersebut, Kawula Muda. Padahal, cinta seharusnya saling menghargai satu sama lain, loh! 

    3. Terlalu Positif

    toxic relationshipIlustrasi pertengkaran di dalam toxic relationship (UNSPLASH/AFIF RAMDHASUMA)

     

    Menjadi manusia yang selalu berusaha melihat hal baik tentu bagus. Namun, jangan sampai mengabaikan hal negatif yang terjadi dalam hubungan lo ya, Kawula Muda!

    Apabila terus dibiarkan, hal ini akan menyebabkan lo terjebak dalam hubungan yang toksik. Karena merasa bahwa masih ada hal positif dalam hubungan lo dan doi, lo berusaha keras untuk mempertahankan hubungan beracun tersebut. 

    4. Rasa Candu

    Salah satu alasan mengapa seseorang bertahan dalam toxic relationship adalah rasa candu dirasakan. Rasa candu tersebut pun muncul karena adanya ‘penghargaan/hal baik’ yang tidak terus-menerus muncul.

    Hal ini pun mengakibatkan perubahan biokimia pada otak seseorang dan membuat rasa candu. Jika ‘penghargaan’ dapat dengan mudah didapat, maka otak kita akan jangan merangsang dopamine. Sebagai informasi, dopamine adalah salah satu hormon yang banyak terbentuk saat jatuh cinta dan memunculkan rasa senang. 

    Sementara itu, respons dopamine akan jauh lebih tinggi dan intens apabila kita mendapat ‘penghargaan’ yang tidak konsisten. Karena itu, semakin jarang mendapat penghargaan positif dari pasangan, maka semakin tinggi pula rasa candu yang dirasakan. 

    Hmmm… jangan-jangan ini salah satu penjelasan mengapa seseorang mudah bosan dengan pasangan yang baik dan perhatian ya, Kawula Muda?

    5. Takut Kesepian

    toxic relationshipIlustrasi toxic relationship yang tidak dapat dipaksakan (UNSPLASH/SHOEIB ABOLHASSANI)

     

    Kecenderungan untuk memiliki orang lain dapat menjadi salah satu alasan kuat mengapa seseorang tetap mempertahankan hubungan toksiknya. Dari pada sendiri, lebih baik berada dalam hubungan yang menyakitkan tersebut. 

    Padahal, bisa jadi keputusan mempertahankan hubungan lo malah menghilangkan kesempatan untuk bertemu orang lain yang lebih baik buat lo, Kawula Muda! 

    6. Investasi

    Seolah kembali membayangkan apa yang lo korbankan untuk hubungan ini, lo merasa bahwa hubungan toksik tersebut sebenarnya masih bisa diperbaiki. Pengorbanan tersebut pun melibatkan waktu, usaha, energi, hingga uang yang selama ini lo habiskan demi membangun hubungan tersebut. 

    Layaknya investasi, lo berharap akan mendapat return atau pengembalian yang tinggi. Karena belum mendapatkannya, muncullah rasa sayang untuk meninggalkan hubungan tidak sehat tersebut. 

    7. Tidak Ingin Memulai dari Awal

    toxic relationshipIlustrasi perempuan menangis karena toxic relationship (UNSPLASH/ERIC WARD)

     

    Rasa nyaman yang dirasakan ketika bersama orang yang telah menemani lo sejak lama tentu tidak mudah dilupakan. Hal inilah yang kerap seolah mengikat lo dalam hubungan yang tidak sehat tersebut. 

    Karena sudah terlalu nyaman itulah, muncul rasa enggan untuk berhubungan dengan orang baru. Belum memulainya pun, lo sudah merasa malas dan lelah untuk kembali mengenal, mendekati, dan menyesuaikan diri dengan orang baru. Padahal, bisa jadi orang baru tersebut adalah orang yang tepat untuk lo loh, Kawula Muda! 

    8. Rasa Ingin Memperbaiki

    Banyak orang yang memilih untuk bertahan karena percaya dapat mengubah pasangannya. Padahal percayalah, Kawula Muda, tidak mudah mengubah kebiasaan dan sifat seseorang yang telah melekat pada dirinya sedari kecil! 

    Jangan lupa kalau satu-satunya orang yang dapat lo ubah ya… diri lo sendiri saja, Kawula Muda. Karena itu, jangan menjadikan mengubah seseorang sebagai kewajiban atau tanggung jawab lo. Terlebih lagi apabila ia selalu memperlakukan lo secara salah dan membuat lo tidak lagi mengenal diri sendiri. 

    9. Manipulasi dan Jebakan

    Toxic relationshipIlustrasi butuhnya pihak ketiga untuk menyelesaikan toxic relationship (PEXELS/ANTONI SHKRABA)

     

    Manipulasi dalam hubungan dapat membuat lo percaya bahwa bukan sebuah pilihan untuk meninggalkan hubungan tersebut. Hal ini pun membuat lo putus asa, karena merasa tidak dapat berhenti dari hubungan beracun ini. 

    Mungkin saja narasi seperti "gue bisa mati kalo lo putusin gue" atau "gue percaya kita bisa lebih baik dari ini dan gue harus bareng sama lo". Selain itu, dapat pula hubungan lo penuh dengan ancaman seperti "gue bakal bunuh diri kalo kita putus" atau "gue bakal sebar video kita ke media sosial kalo kita bubar"

    Kalau menurut lo ucapan tersebut merupakan usaha manipulasi agar lo tetap bersamanya, ada baiknya lo semakin berhati-hati. Jangan ragu pula untuk meminta bantuan pihak ketiga maupun lembaga hukum apabila lo merasa sudah di tahap yang membahayakan diri dan privasi lo, ya Kawula Muda! 

    10. Keluarga

    Kini, banyak orang yang mempertahankan hubungan toksiknya dengan alasan demi anak atau demi keluarga. Buat lo yang belum menikah, mungkin muncul juga pikiran seperti "keluarga gue udah suka banget sama dia"

    Padahal, hal itu tidak ada artinya apabila diri lo merasa tidak nyaman dan aman ketika bersama doi, Kawula Muda. Buat lo yang sudah menikah dan memiliki anak pun, hubungan yang toksik juga dapat berakibat negatif bagi sang anak. Jangan sampai sang anak malah berpikir kalau cinta adalah ketika seseorang harus menanggung rasa sakit dan tidak bahagia. 

    Editor Team

    COMMENT