Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    Oct 04 2021

    Lady Diana Jadi Alasan Kesuksesan Dior, Brand yang Tunjuk Jisoo BLACKPINK Jadi Global Ambassador

    Kawula Muda, brand luxury impian lo apa, nih?

    Lady Diana menggunakan Lady Dior di beberapa kesempatan. (Dok. MARIECLAIRE)

    Kawula Muda, vokal dan visual utama BLACKPINK, Jisoo, kini telah ditunjuk sebagai global ambassador Dior Fashion dan Dior Beauty. Sebuah video yang diunggah oleh Elle Taiwan memperlihatkan CEO Dior Pietro Beccari yang telah bertemu dengan Jisoo.

    Lucunya, CEO sekaligus Chairman dari Dior itu melontarkan sebuah candaan. "Jika YG Entertainment memecatnya (Jisoo), hubungi aku, aku akan merekrutnya," tuturnya.

    Seperti yang kita ketahui, Dior sendiri merupakan sebuah luxury brand yang telah dikenal di ranah internasional sejak Desember 1946 di 30 Avenue Montaigne di Paris. Melansir Kontan, Dior telah melewati perjalanan panjang sebelum menjadi brand fashion bergengsi di seluruh dunia. 

    Christian Dior, pemilik dari brand Dior, pertama kali meluncurkan koleksi musim semi dan musim panasnya pada 12 Februari 1947 di kantor pusat perusahaan.

    Dior ingin buat busana yang membentuk lekuk tubuh perempuan

    Koleksi pertamanya itulah yang membawa Pemimpin Redaksi Harper's Bazaar, Carmel Snow mempercayakan Christian Dior untuk terus melebarkan sayapnya.

    Pasalnya, karya Dior sendiri memiliki desain revolusioner di tahun 40-an, melihat busana perempuannya yang terkenal membentuk siluet pinggul, pinggang yang lebih ketat, serta payudara yang menonjol.

    Desain itu juga membawa Dior terus berkembang hingga tahun 1950-an, dan menjadi rumah mode yang yang disegani. Pun beberapa selebriti ternama juga kerap menggunakan gaun rancangan Dior seperti Marlene Dietrich, Ava Gardner, hingga anggota keluarga kerajaan Inggris.

    Perjalanan Dior yang kian berganti kepemimpinan

    Namun, Christian Dior mengalami serangan jantung dan meninggal pada 24 Oktober 1957. Sejak saat itulah, Yves Saint Laurent yang masih berusia 21 tahun mengambil alih kepemimpinan brand Dior.

    Masih menggunakan kain yang sama, koleksi Saint Laurent menawarkan potongan yang lebih lembut, ringan, dan mudah dipakai. Pun desain Saint Laurent terlihat lebih berani hingga tahun 1960 di mana koleksi bohemiannya mendapat kritik keras dari berbagai pihak.

    Saat itu juga, Saint Laurent terpaksa meninggalkan Dior seiring dengan dipanggilnya Saint Laurent untuk bergabung dengan tentara Prancis.

    Kemudian, pada akhir 1960-an, Dior diambil alih oleh Marc Bohan dengan tampilan gaya yang lebih konservatif.

    Sejarah brand Dior pun berlanjut pada 1967, di mana asisten Bohan, Philippe Guibourgé meluncurkan koleksi pakaian "ready to wear" Prancis pertamanya bernama "Miss Dior".

    Dior pun akhirnya membuka butiknya di distrik perbelanjaan kelas atas New York, Los Angeles, dan Tokyo. Di mana, hanya dalam lima tahun, pendapatan Dior telah menunjukkan peningkatan.

    Semula pendapatan Dior mencapai US$129,3 juta dengan laba bersih US$22 juta. Pada tahun 1995, pendapatannya pun meningkat menjadi US$177 juta dengan pendapatan bersihnya tercatat hingga US$26,9 juta.

    Lady Diana jadi alasan salah satu tasnya dinamakan Lady Dior

    Di tahun yang sama, istri mantan Presiden Prancis Jacques Chirac, Bernadetta Chirac, menghubungi Dior lantaran ia ingin memberi sebuah tas tangan unik untuk Lady Diana yang ingin berkunjung ke Paris.

    Terciptalah sebuah tas hitam yang dinamakan Chouchou. Tas itu kemudian kerap digunakan Putri Diana saat berkunjung ke beberapa tempat seperti panti asuhan di Birmingham dan kunjungan kenegaraan ke Argentina.

    Tas itu akhirnya diberi nama Lady Dior dengan seizin Putri Diana pada tahun 1996. Nama Dior pun kembali meroket ketika tas Lady Dior berhasil terjual sebanyak 200.000 buah dalam dua tahun. Pun omset penjualan barang-barang Dior yang terbuat dari kulit terus meningkat.


    Editor Team

    COMMENT