Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    May 24 2020

    Manfaat Memaafkan bagi Kesehatan Fisik dan Mental, Bagian 1

    Hai Kawula Muda, ternyata memaafkan itu banyak manfaatnya lho.

    Sorry. (INSTAGRAM/WALLPAPER 4U)

    Idul fitri yang tengah dirayakan oleh umat muslim di dunia, biasanya dijadikan momen untuk saling memaafkan. Meski terdengar mudah diucapkan, sesungguhnya justru fase memaafkan butuh proses yang tidak mudah.

    Kok bisa begitu ya?

    Sulitnya memaafkan bisa jadi muncul karena kecenderungan orang yang dengan mudahnya meminta maaf, tetapi tidak benar-benar tulus. Beberapa saat kemudian, bisa saja kita mengulangi kesalahan yang sama.

    Meski memaafkan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, kita bisa mempelajarin sekaligus mendapatkan manfaat yang sangat baik untuk kesehatan.

    Salah satu penelitian mengenai hubungan memaafkan terhadap kesehatan pernah dilakukan oleh Toussaint, untuk menilai hubungan antara paparan stres, kemampuan memaafkan, dan kaitannya dengan status kesehatan seseorang. 

    Disimpulkan bahwa, mengembangkan diri menjadi pemaaf bisa membantu menekan stres yang dialami seseorang.

    Sebaliknya, tingkat stres yang besar bila disertai tingkat pengampunan yang rendah bisa memperburuk kesehatan mental dan fisik . 

    Berikut ini beberapa manfaat memaafkan bagi kesehatan.

    1. Meningkatkan kualitas diri

    Bila dilihat dari sisi psikologis, memaafkan dapat berdampak baik bagi kualitas hidup seseorang, sekaligus dapat meningkatkan kualitas hubungan, baik kepada diri sendiri maupun dengan orang lain.

    Saat kita memiliki masalah dengan orang lain, maka konflik tersebut dapat menimbulkan berbagai emosi negatif, seperti sakit hati, marah, hingga dendam.

    Tentu saja itu dapat memicu respons simpati dalam tubuh, sehingga dapat meningkatkan laju denyut jantung. Dalam jangka waktu yang cukup lama kondisi ini dapat merusak kesehatan diri kita sendiri.

    2. Menurunkan risiko stres

    Untuk belajar memaafkan, pertama-tama kita harus menerima kondisi menyakitkan dan rasa tidak nyaman yang tengah dialami.

    Dengan fase menerima ini, kondisi mental akan dilatih sehingga bisa lebih baik ketika menghadapi masalah berikutnya. Hal ini kemudian dapat menurunkan risiko stres.

    3. Melatih empati

    Setelah fase menerima, dan ketika kita memaafkan orang lain, berarti kita telah menaruh empati kepada orang tersebut. Kita telah mampu memahami kondisi orang itu dan alasan mengapa ia bertindak demikian.

    Pada akhirnya, rasa empati akan menciptakan dampak baik bagi kehidupan sosial seseorang.

    Editor Team

    COMMENT