Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    Oct 04 2022

    Bendera Setengah Tiang, Sejarah dan Makna Mendalam di Baliknya

    Hai Kawula Muda, FIFA kibarkan bendera setengah tiang untuk tragedi Kanjuruhan.

    FIFA kibarkan bendera setengah tiang untuk Tragedi Kanjuruhan. (FIFA)


    Tragedi Kanjuruhan yang merenggut ratusan nyawa menimbulkan duka yang mendalam bagi persepakbolaan Indonesia dan dunia. FIFA bahkan menyebutnya sebagai “Hari yang Kelam”.

    "Ini adalah hari yang kelam untuk seluruh yang terlibat di sepak bola, sebuah tragedi. Saya mengirimkan ucapan duka cita mendalam untuk keluarga dan rekan-rekan korban meninggal dunia akibat insiden tragis ini," tutur Presiden FIFA Gianni Infantino.

    Sebagai aksi simpati dan menunjukkan rasa duka citanya FIFA mengibarkan bendera setengah tiang dari seluruh negara anggota FIFA dan bendera konfederasi di kantor pusat FIFA.

    "Seluruh bendera anggota FIFA, dan Konfederasi kini dikibarkan setengah tiang di kantor pusat, sebagai bentuk penghormatan pada orang-orang yang kehilangan nyawanya (di Tragedi Stadion Kanjuruhan)," kata FIFA dalam pernyataan mereka lewat akun resminya.

    Simbol duka cita mendalam

    Pengibaran bendera setengah tiang merupakan simbol resmi internasional yang menandakan duka cita. Dan ternyata, cara seperti ini telah digunakan sejak lama.

    Dikutip dari artikel Ethan Trex bertajuk Why are Flags Flown at Half-Staff in Times of Mourning? dalam The Week edisi 20 Desember 2012, tradisi pengibaran bendera setengah tiang sudah dilakukan sejak abad ke-17 Masehi.

    Dilansir dari berbagai sumber, sejarah mencatat pengibaran bendera setengah tiang sudah dilakukan sejak 1612.

    Pengibaran bendera setengah tiang dilakukan pertama kali saat Kapten Kapal Inggris, Hearts Ease William Hill meninggal dalam perjalanan menuju Kanada.

    Saat kapal tersebut kembali ke London, masyarakat melihat bendera berkibar di tengah tiang dan mempertanyakannya. Awak kapal kemudian menjelaskan tentang kematian kapten mereka.

    Sejak itulah, bendera setengah tiang selalu dilakukan setiap kali ada tokoh besar meninggal.

    BENDERAFIFA kibarkan bendera setengah tiang untuk Tragedi Kanjuruhan. (FIFA)

      

    Filosofi di balik bendera setengah tiang

    Mengapa harus setengah tiang? G. Bartram dalam A Guide to Flag Protocol in the United Kingdom (2013) menuliskan, bendera diturunkan setengah tiang untuk memberikan ruang bagi “kematian yang tak terlihat” yang “terbang ke atas dari tengah tiang”.

    Ada dua istilah yang mengacu kepada tradisi ini, yakni half-mast dan half-staff. Istilah half-malf digunakan jika pengibaran bendera dilakukan di kapal laut atau di tiang kapal.

    Sedangkan di darat, istilah yang digunakan adalah half-staff. Kendati demikian, tidak semua negara mesti menganut “aturan” dua istilah ini.

    Aturan pengibaran 

    Pengibaran bendera setengah tiang memiliki aturan atau tata cara sendiri di tiap negara. Tata cara atau aturan bendera setengah tiang di Indonesia sendiri termuat dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam Pasal 14 ayat (2) dan (3) UU No. 24 Tahun 2009.

    Disebutkan tentang tata cara atau aturan pengibaran bendera setengah tiang sebagai berikut.

    • Pengibaran bendera setengah tiang adalah dengan cara bendera dinaikkan hingga ke ujung tiang, lalu dihentikan sebentar dan diturunkan tepat setengah tiang
    • Penurunan bendera setengah tiang adalah dengan cara bendera dinaikkan terlebih dahulu hingga ujung tiang, lalu dihentikan sebentar, kemudian diturunkan

    Bagaimana dengan negara lain? Di Inggris misalnya, dikutip dari Flaginstitute.org, bendera harus dikibarkan tidak kurang dari dua pertiga titik mula bendera mulai dikerek, sampai ketinggian antara bagian atas bendera dan bagian atas tiang.

    Cara mengerek bendera setengah tiang pun ada aturannya. Saat awal prosesi pengibaran, bendera harus dikerek sampai mendekati puncak tiang untuk beberapa saat, baru kemudian diturunkan sesuai ukuran setengah tiang yang sudah ditentukan.

    Begitu pula saat penurunan. Bendera yang semula berada di posisi setengah tiang hendaknya dikerek ke atas mendekati puncak terlebih dulu, baru kemudian diturunkan sepenuhnya.

    Begitu penuh makna dan filosofi dari pengibaran bendera setengah tiang. Menjadi sebuah peringatan, penghormatan, sekaligus ikut merasakah duka yang mendalam atas yang tengah dialami oleh saudara kita.

    Editor Team

    COMMENT