Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    Oct 05 2022

    Strategi dan Makna Penting di Balik Seragam Loreng Tentara

    Hai Kawula Muda, kenapa ya seragam tentara itu identik dengan loreng?

    Tentara Nasional Indonesia (TNI. (ANTARA)


    Salah satu yang identik dari tentara adalah seragamnya yang bermotif loreng. Bahkan tak hanya di Indonesia, di negeri luar sana pun sama. Meski corak lorengnya sedikit berbeda.

    Ternyata perbedaan corak, seperti warnanya adalah karena untuk menyesuaikan dengan medan tempur dan kondisi alam suatu negara atau kawasan.

    Misalnya tentara di negara-negara tropis, motif lorengnya akan didominasi warna coklat, hijau, hitam menyesuaikan dengan warna hutan tropis yaitu hijau daun dan coklat kayu yang mendominasi wilayah tersebut.

    Sedangkan para tentara di negara sub tropis yang memiliki musim salju dan musim gugur, biasanya menggunakan warna coklat dan putih.

    Meski agak berbeda, ternyata tujuan utama dari penggunaan corak loreng adalah sama-sama untuk keperluan penyamaran. Dengan menggunakan warna loreng pasukan militer akan lebih sulit untuk terdeteksi secara visual oleh pasukan musuh.

    SERAGAM TENTARASeragam tentara tahun 1800-an dan 2000-an. (WIKIPEDIA)

     

    Mulai digunakan pada 1800-an

    Menurut sejarahnya, baju loreng pertama kali digunakan awal tahun 1800-an oleh beberapa unit militer untuk melindungi diri dari tembakan senjata.

    Dilansir dari buku Bonaparte: 1769-1802, Patrice Gueniffey, 2015, pasukan yang mengadopsi warna loreng untuk pertama kali adalah Resimen Senapan ke-95 dan Resimen Senapan ke-60.

    Pakaian itu dipakai saat Perang Napoleon untuk memperkuat garis pertempuran tentara Inggris.

    Saat membawa Rifles Baker (senjata dengan bayonet) dan memperluas area pertempuran, pasukan ini mengenakan jaket hijau, di mana itu berbeda dengan resimen lain yang mengenakan jubah merah tua.

    Penggunaan seragam loreng ini pun kian populer setelah Perang Dunia II sebagai strategi yang diperbarui.

    Namun untuk saat ini, penggunaan seragam bercorak loreng atau kamuflase visual sudah tidak terlalu relevan. Pasalnya seiring perkembangan teknologi, cara deteksi musuh kini mulai canggih, seperti menggunakan alat pendeteksi panas.

    Meskipun begitu, baju loreng tetap dimanfaatkan tentara hingga saat ini, termasuk Tentara Nasional Indonesia (TNI).

    TNI AUTentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). (DETIK.COM)

     

    Tentara Nasional Indonesia (TNI)

    Tepat di hari ini, Rabu (5/10/2022), Tentara Nasional Indonesia (TNI) memasuki usia ke-77 tahun. Untuk seragam, TNI yang memiliki 3 angkatan, masing-masing punya corak motif loreng yang berbeda-beda. Perbedaan motif loreng itu disesuaikan dengan kondisi lapangan di mana setiap tentara itu bertugas.

    TNI ALAnggota TNI AL tengah bertugas. (DISPEN KOARMADA I)

      

    TNI AD (hijau, hitam, coklat tua)

    Seragam TNI Angkatan Darat (TNI AD) motif lorengnya merupakan paduan warna hijau, hitam, dan coklat tua. Perpaduan warna ini cocok dipakai di hutan-hutan Indonesia, karena memang area jangkauan TNI AD adalah pertempuran di darat yang meliputi hutan-hutan tropis.

    Meskipun begitu, TNI AD juga pernah menggunakan seragam loreng berwarna kuning coklat dan coklat tua ketika bertugas di luar negeri seperti Libanon. Hal itu juga untuk menyesuaikan dengan warna gurun yang mendominasi negara tersebut.

    TNI AU (biru langit)

    Sesuai dengan moto TNI AU “Swa Bhuwana Paksa” yang berarti “Sayap Pelindung Tanah Airku”, TNI Angkatan Udara (TNI AU) menggunakan motif loreng berwarna biru langit.

    TNI AL (coklat, hitam, abu-abu)

    TNI Angkata Laut (TNI AL) memiliki motif loreng yang merupakan perpaduan warna coklat, hitam dan abu-abu sesuai dengan tugasnya menjadi pelindung di garda depan dari laut Indonesia.

    Nah Kawula Muda, meskipun tujuan utama pakaian loreng pada tentara adalah sebagai kamuflase, motif ini juga berhasil membuat tentara tampak lebih gagah dan keren ya? 

    Dirgahayu Tentara Nasional Indonesia ke-77, “TNI adalah Kita”.

    Editor Team

    COMMENT