Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    Aug 16 2022

    Woodstock, Festival Musik Terkelam Sepanjang Masa yang Berujung Tragedi

    Kawula Muda, tragedi ini diangkat dalam dokumenter Netflix berjudul "Trainwreck: Woodstock ’99".

    Woodstock, festival musik terkelam sepanjang masa yang berujung tragedi. (TWITTER)


    Woodstock menjadi salah satu festival musik terbesar di Amerika dan tidak akan pernah dilupakan dalam industri ini.

    Festival musik yang mengusung semboyan “Peace, Love, and Happiness” alias perdamaian, cinta, dan kegembiraan itu justru harus berakhir dengan tragedi.

    Penonton tak lagi bersenang-senang menikmati musik dari penampilan para musisi besar mulai dari James Brown, Rage Against The Machine, hingga Red Hot Chili Peppers. Festival musik yang seharusnya menyenangkan tersebut justru diwarnai aksi kekerasan, vandalisme, dan menjadi yang terkelam dalam sejarah.

    Kisah ini kemudian diangkat dalam dokumenter Netflix terbaru berjudul Trainwreck: Woodstock ’99. Dokumenter tersebut mengulas kembali peristiwa tersebut dengan melakukan wawancara para staf festival, pemain musik, hingga para penonton yang menjadi saksi kerusuhan di festival tersebut.


    Kerusuhan Woodstock ’99

    Gelaran terakhir festival yang diadakan pada 1999 tersebut dikenang sebagai “hari kematian dekade 1990-an”.

    Festival yang digelar pada 22-25 Juli 1999 itu berlangsung di Pangkalan Angkatan Udara Griffiss yang terletak di Roma, New York, Amerika Serikat. Dipilihnya lokasi Pangkalan Angkatan Udara karena untuk mengakomodir jumlah penonton festival tersebut.

    Sayangnya, festival tersebut harus berujung tragis. Para penonton tidak lagi bersenang-senang karena masing-masing justru harus berjuang untuk bertahan hidup.

    Melansir dari voi.id, para penonton harus terkena sengatan matahari, sedangkan air kemasan dan makanan yang dijual di area tersebut harganya sangat mahal dan jumlahnya terbatas.

    Banyak penonton akhirnya melakukan tindakan nekat, salah satunya dengan melakukan pencurian ATM. Dari setiap penampilan Woodstock juga terdapat beberapa hal yang akhirnya memicu huru-hara.

    Seperti saat Insane Clown Posse (ICP) tampil, mereka sempat menghasut penonton dengan melempar uang 100 dolar AS ke arah penonton. Mereka justru terlihat gembira saat terjadi huru-hara di penonton.

    Toilet yang tersedia juga banyak yang rusak, sehingga semakin membuat banyak penonton naik pitam. Karena membutuhkan air, mereka juga mensabotase pipa-pipa penyalur. Bahkan 500 personel Kepolisian New York State Troopers yang berada di lokasi tidak dapat berbuat banyak.

    Tragedi Woodstock 1999 dimulai ketika Limp Bizkit mulai naik panggung. Menurut laporan, setelah Fred Durst menghasut orang banyak dengan Break Stuff.

    Sepanjang musisi asal Florida, Amerika Serikat itu tampil, dilaporkan ada empat kasus pemerkosaan, bahkan salah satunya dilakukan secara berkelompok.

    Selain itu, aksi menyalakan lilin yang seharusnya mengiringi penampilan Red Hot Chili Peppers justru memicu aksi anarkis, salah satunya membakar pengeras suara. Insiden tersebut kemudian memicu aksi penjarahan.

    Dalam tiga hari penyelenggaraan Festival Woodstock 1999, polisi telah menangkap 44 orang. Sementara, 1.200 orang harus menjalani perawatan medis.

    Walau tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam festival musik tersebut, Woodstock diingat sebagai peristiwa kelam yang berujung tragedi.

    Woodstock 1969

    Woodstock 1999 seharusnya digelar untuk mengembalikan citra festival musik tersebut setelah gagal pada saat penyelenggaraan di tahun 1969.

    Festival musik Woodstock 1969 menjadi perhelatan gerakan kontra kultur di Amerika Serikat. Saat itu, banyak orang melakukan penolakan anti-perang. Anak muda Amerika banyak yang turun ke jalan melakukan aksi protes invasi Amerika Serikat ke Vietnam.

    Woodstock 1969 dihadiri setidaknya 30 ribu orang, jumlahnya diluar ekspektasi pihak penyelenggara. Ribuan orang bernyanyi, menari, dan mabuk di lapangan luas.

    Salah satu kesalahan terbesar pihak penyelenggara saat itu karena jumlah pihak keamanan yang mereka rekrut jumlahnya tidak sebanding.

    Pihak panitia bukannya merekrut pihak keamanan resmi, melainkan mengajak geng motor beringas bernama Hell’s Angeles untuk mengamankan konser.

    Walaupun Hell’s Angels menolak untuk membantu keamanan konser, mereka berjanji akan menjadi penonton yang membantu kelancaran acara.

    Sayangnya, para anggota Hell’s Angels justru terlibat keributan dengan penonton lain. Jumlah penonton yang terlalu banyak, makanan yang tidak mencukupi, menjadi salah satu penyebab Woodstock 1969 menjadi rusuh. 

    Editor Team

    COMMENT