Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    >
    Nov 08 2022

    Mengapa Konten Pornografi Cepat Viral dan Diburu Polisi Indonesia seperti Kebaya Merah?

    Karena seluruh jaringan masyarakat maupun polisi sama-sama menggemari hal-hal berbau pornografi, Kawula Muda :)

    Ilustrasi seseorang yang sedang mengakses pornografi (UNSPLASH/CharlesDeluvio)


    Pada 6 November kemarin, Polisi Daerah Jawa Timur resmi menetapkan dua orang pemeran video porno kebaya merah. Kedua ‘pelaku’ tersebut adalah laki-laki berinisial ACS dan perempuan berinisial AH yang bukan suami istri. 

    Sebelumnya, video porno yang menampilkan perempuan berkebaya merah dan seorang pria berhanduk viral di media sosial. Polisi lalu bergerak cepat menyelidikinya. Aparat kemudian mengidentifikasi lokasi direkamnya video porno itu berada di sebuah hotel bilangan Gubeng, Surabaya.

    Polisi pun menangkap dua pelaku pemeran video porno kebaya merah, ACS dan AH di kawasan Medokan, Surabaya, Minggu (6/11/2022) malam. 

    Ini bukan pertama kalinya polisi bertindak seperti kilat dalam menangani kasus pornografi di Indonesia. Sebelumnya, ada pula Dea “OnlyFans” yang juga ditangkap atas kasus pornografi dan beberapa selebriti tanah air yang konten pribadinya tersebar di sosial media.

    Hal tersebut sebenarnya sah-sah saja dilakukan oleh polisi, karena telah memiliki wadah hukum yakni UU Pornografi. 

    Namun, yang bikin heran, kenapa polisi terkesan seolah hanya bisa bertindak cepat, tanggap, dan sigap ketika berkaitan dengan pornografi? Kemudian dari sisi masyarakat, mengapa hal tersebut sangat cepat menjadi topik pembicaraan sampai viral? 

    Pornografi Rajai Konten Negatif di Indonesia

    Film pornoIlustrasi seseorang yang sedang mengakses pornografi (UNSPLASH/CharlesDeluvio)

     

    Sekretaris Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Drs. Sadjan M.Si menjelaskan hasil pencarian antara Agustus 2018 hingga April 2019. 

    Mesin Pengais Konten Negatif, AIS menemukan sebanyak 898.108 konten pornografi. Jumlah tersebut adalah yang tertinggi dari keseluruhan jenis konten negatif. Sementara itu untuk platform, Twitter menjadi raja dalam mendistribusikan konten negatif.

    Platform pornografi global OnlyFans dan PornHub memang telah diblokir oleh pemerintah Indonesia. Namun, hal tersebut tidak menutup keinginan masyarakat untuk mengakses konten-konten tersebut. 

    Salah satu jurus jitu yang banyak dilakukan adalah Virtual Private Network (VPN). Dengan VPN, seseorang dapat membuka suatu situs yang diblokir oleh jaringan lokal setempat. 

    Pegiat keamanan digital Yerry Niko Borang merinci terdapat banyak motif pengguna internet untuk menggunakan VPN di Indonesia. Namun, fungsi terbesar VPN bagi warga Indonesia yakni mengakses situs hiburan, mengakses situs dewasa (porno), dan mengakses situs yang diblokir.

    Setidaknya begitulah menurut laporan "Digital 2022 - April Global Statshot Report" yang dipublikasi oleh Hootsuite dan We Are Social. Menurut laporan tersebut, sebanyak 38,9 persen pengguna internet di Indonesia (usia 16 hingga 64 tahun) menggunakan VPN, setidaknya untuk beberapa aktivitas online mereka. 

    Indonesia menjadi negara nomor tiga dalam peringkat tersebut. Di atasnya, terdapat India dan Nigeria sebagai negara tertinggi penggunaan VPN. 

    Pornografi Mudah Diakses Anak-Anak

    Anak sekolahIlustrasi Anak Sekolah (UNSPLASH)

     

    Tak hanya para dewasa, ramai juga anak-anak Indonesia yang telah menyaksikan tayangan pornografi. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pun mengungkap 66,6 persen anak laki-laki dan 62,3 persen anak perempuan di Indonesia menyaksikan kegiatan seksual (pornografi) melalui media daring (online) pada 2021 lalu. 

    “Data SNPHAR menyebutkan cukup besar anak-anak yang menyaksikan kegiatan seksual melalui media online,” kata Robert Parlindungan S, Asisten Deputi Pelayanan Anak Kementerian PPA dalam konferensi pers pengungkapan kasus kejahatan seksual anak di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/11/2021), mengutip Suara. 

    Data tersebut juga mengungkapkan sebanyak 34,5 persen anak laki-laki dan 25 persen anak perempuan pernah terlibat pornografi atau mempraktikkan langsung kegiatan seksual. Angka ini menunjukkan bahwa anak-anak sudah terdampak pornografi, baik itu pencabulan maupun hal lainnya.

    Robert pun menyebutkan sebesar 38,2 persen dan 39 persen anak pernah mengirimkan foto kegiatan seksual melalui media daring.

    Padahal, dampak pornografi, terutama untuk anak-anak dan remaja yang otaknya tengah berkembang, sangatlah besar. Mengutip Tempo, Direktur Minauli Consulting Medan, Psikolog Dra. Irna Minauli, M.Si menyebut akan timbulnya keinginan untuk melakukan hal serupa dengan tayangan yang anak-anak tonton. 

    Bahkan, dapat pula muncul dorongan untuk memamerkan apa yang telah mereka lakukan dan kemampuan yang mereka miliki terkait hal-hal seksual. Lebih lanjut, paparan pornografi yang sangat besar juga berbahaya bagi anak laki-laki. Mereka yang kecanduan berpotensi memandang perempuan hanya sebagai objek seksual saja. 

    Pada dasarnya, jika tidak ada pihak yang sigap dalam menjaga generasi muda dari bahaya pornografi, dampaknya akan semakin parah, Kawula Muda. 

    Pornografi Semakin Mudah Tersebar

    ViralIlustrasi sebuah konten yang viral di media sosial (UNSPLASH/MEDIAMODIFIER)

      

    Miris rasanya, dengan kemajuan teknologi yang semakin positif, hal yang dilakukan justru semakin negatif. Dengan sebuah ponsel, kini setiap orang dapat mendokumentasikan hingga menyebarkan berbagai konten, termasuk pornografi. 

    "Bagi para remaja yang relatif belum bisa berpikir jauh, mereka melakukan hal itu hanya sekedar ingin mendapatkan like atau menjadi viral," tutur Psikolog Dra. Irna Minauli, M.Si mengutip Tempo. 

    Ia mengatakan, hal yang sering luput dari perhatian adalah para penonton yang ada di lokasi kejadian, misalnya remaja yang memvideokan atau mereka yang seharusnya bisa mencegah terjadinya kejadian tersebut. 

    Dalam banyak kasus, sering kali para penonton yang seharusnya bisa mencegah, namun malah sering berperan sebagai yang seolah-olah memberi semangat kepada para pelaku. Hal inilah yang menjadi persoalan. Kegemaran masyarakat akan hal-hal berbau pornografi justru menjadi api pembakar semangat agar konten pornografi dapat tumbuh subur di Indonesia. 

    “Jadi, cukup besar. Bahwa media-media online kita ini dipenuhi dengan hal-hal yang tidak pantas untuk dilihat, ditonton anak-anak,” lanjut Robert Parlindungan S.

    Menurutnya, persoalan ini makin kompleks dengan perkembangan teknologi yang makin pesat bahwa pornografi merupakan salah satu bisa merusak masa depan anak. “Hampir semua kekerasan seksual terjadi karena kita belum mampu menekan pornografi ini,” lanjutnya. 

    Tak jarang, ada pula yang menjadikan pornografi sebagai bisnis. Berdasarkan pencarian tim redaksi, terdapat berbagai akun yang menawarkan penyebaran video pornografi di sebuah grup media sosial. Apabila seseorang ingin bergabung dengan grup tersebut, maka ia harus membayar sejumlah uang sebagai biaya ‘pendaftaran’.

    Kemudian, setelah bergabung dengan grup tersebut, ia akan dikirimkan video hingga foto pornografi secara teratur. Dari sampel yang tersebar di media sosial, tim reporter melihat banyaknya remaja yang memvideokan dirinya sendiri. 

    Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi tidak diimbangi dengan kemampuan seseorang untuk mengolah informasi di dalamnya. Kurang, ambigu, dan tabunya pendidikan seks juga memperparah pemahaman terkait seksualitas di Indonesia. 

    Para remaja hingga dewasa yang tidak mendapat pendidikan seks secara positif lainnya, justru dapat bereksplorasi semakin liar di dunia maya. Lebih lanjut, bahaya dapat datang karena mereka tidak mengetahui bahaya dan dampak dari seks bebas yang mereka lakukan. 

    Polisi Cepat Bergerak Berantas Konten Pornografi

    Ilustrasi polisiIlustrasi polisi (RIAUIN.COM)

     

    Mengutip laman resmi Kemen PPPA Republik Indonesia, menurut Supomo, pandangan konservatif terhadap seksualitas dibentuk oleh pengaruh ajaran Islam saat itu dan sistem pendidikan Belanda yang diliputi semangat Victorian. Ini terbukti dengan munculnya literatur yang semakin konservatif sepanjang abad ke-19 karena para penulisnya mengikuti sistem pendidikan Belanda.

    Akibatnya, masyarakat kelas menengah atas cenderung bersikap lebih kaku daripada masyarakat pedesaan yang tidak mengenyam sekolah. Karena itu, pornografi dan seksualitas seolah dianggap sebagai hal menjijikkan dan tabu.

    Hal itu pun banyak terlihat dari berbagai gerakan polisi maupun perundang-undangan di Indonesia. Banyak sekali yang mengatur terkait kesusilaan walau hal tersebut sesungguhnya merupakan dimensi privat seseorang di mata hukum. 

    Akan tetapi, yang cukup disorot oleh tim reporter Prambors adalah kilatnya negara dan polisi dalam menangani urusan berbau pornografi.

    Pada hari Valentine misalnya. Banyak sekali Satpol PP yang merekam dan mempublikasikan kegiatan menggerebek hotel-hotel. Misalnya saja Satpol PP Surabaya yang membagikan berbagai video penggerebekan lewat akun Twitter @satpolppsby pada Februari 2021 lalu. Selain itu, kasus video Kebaya Merah dan Dea Onlyfans juga menjadi contoh cepatnya gerakan polisi 'moral' ini.

    Di samping itu, pihak berwajib masih terkesan abai dengan laporan masyarakat terkait korban pemerkosaan. Seperti contoh kasus yang sempat viral di awal tahun ini, seorang korban di bawah umur asal Pekanbaru, AS, memilih berdamai dengan pelaku, AR, lewat pencabutan laporan oleh orang tua AS. 

    Hal ini tentu disayangkan berbagai kalangan masyarakat sampai wakil LPSK, Edwin Partogi Pasaribu buka suara dan menilai pencabutan laporan korban melukai rasa keadilan publik.

    "Jadi, meskipun korban atau pelapor telah mencabut laporannya, kepolisian tetap berkewajiban memproses perkara tersebut," ujar Edwin.

    Masyarakat juga menilai adanya relasi kuasa yang besar dalam kasus ini karena AR adalah anak dari anggota DPRD Pekanbaru.

    Cukup berbanding terbalik dengan kesigapan polisi memberantas konten pornografi, ya Kawula Muda.

    Editor Team

    COMMENT