Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    Oct 14 2020

    Tercatat Kematian Pertama Kasus Reinfeksi Covid-19 di Dunia, Tak Ada Lagi Jaminan Kebal?

    Hai Kawula Muda, terus jaga imunitas dan taat protokol kesehatan ya!

    Ilustrasi dokter memegang tangan pasien. (FREEPIK)

    Mengutip NYPost, Selasa (13/10/2020), seorang perempuan berusia lanjut di Belanda meninggal dunia setelah terinfeksi virus corona untuk yang kedua kalinya.

    Kasus ini menjadi kematian pertama yang dilaporkan akibar reinfeksi virus corona dan langsung menjadi bahan penelitian.

    Pasien meninggal dunia berusia 89 tahun tersebut sebelumnya telah dirawat karena kanker sel darah putih yang dideritanya.

    Para peneliti mengatakan, saat tiba di unit gawat darurat, pasien tersebut mengalami demam dan batuk parah. Kemudian ia dikonfirmasi positif Covid-19 dan dirawat selama lima hari.

    Setelah itu gejala-gejala yang ditunjukkan mereda, kecuali kelelahan yang terus dialaminya. Pasien kemudian dinyatakan sembuh dari Covid-19.

    Dua bulan kemudian, dua hari setelah menjalani periode baru kemoterapi, ia mengalami demam, batuk, dan dispnea (sesak napas). Ia kemudian kembali dinyatakan positif Covid-19. Pada hari kedelapan, kondisi pasien memburuk. Ia meninggal dua minggu kemudian.

    COVID-19 KARATINAIlustrasi pasien Covid-19 sedang dikarantina dan mendapat perawatan. (FREEPIK)

     

    Reinfeksi munculkan gejala lebih parah

    Selama ini banyak pendapat yang menduga pasien yang pernah mengalami infeksi Covid-19 tubuhnya akan mengembangkan imun tertentu dan dapat sembuh saat terinfeksi kembali alias kebal.

    Namun, sebuah penelitian yang dirilis di jurnal The Lancet Infectious Diseases pada Selasa (13/10/2020) menunjukkan, pasien Covid-19 kemungkinan akan mengalami gejala lebih parah saat terinfeksi yang kedua kalinya.

    Studi tersebut berdasarkan hasil pengamatan grafik yang ditunjukkan kasus reinfeksi pertama Covid-19 di Amerika Serikat yang memberi indikasi paparan virus tidak menjamin imunitas.

    Pasien tersebut adalah seorang laki-laki berusia 25 tahun dan terinfeksi dua varian berbeda dari SARS-CoV-2 dalam waktu 48 hari. Infeksi kedua lebih parah dari yang pertama hingga membuat pasien dirawat di rumah sakit dan membutuhkan bantuan oksigen.

    Namun demikian, para peneliti masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mencapai kesimpulan yang pasti pada kemungkinan-kemungkinan pada reinfeksi.

    Mengutip dari Straits Times, Mark Pandori sebagai ketua studi mengatakan timnya masih membutuhkan banyak penelitian untuk memahami berapa lama imunitas dapat bertahan pada orang yang terpapar Covid-19 dan mengapa beberapa kasus reinfeksi dapat lebih parah, meskipun jarang.

    Editor Team

    COMMENT