Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    >
    Oct 28 2022

    Tokoh Sumpah Pemuda: Mohammad Yamin Tulis Teks Sumpah di Umur 25 Tahun

    Selamat Hari Sumpah Pemuda, Kawula Muda!

    Mohammad Yamin, penulis teks Sumpah Pemuda (Wikimedia Commons/Fotocollectie Anefo)


    Hari ini, Jumat (28/10/2022), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Perayaan ini lahir dari sebuah rapat yang menghasilkan sumpah para pemuda di Indonesia tentang semangat persatuan dan rasa cinta terhadap tanah air sejak dicetusnya pada 1928.

    Hari Sumpah Pemuda lahir oleh Kongres Pemuda II di 28 Oktober 1928. Saat itu, para pemuda menyelenggarakan rapat atau kongres pemuda yang diusulkan oleh Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI).

    Dalam kongres yang digelar selama tiga kali itu, para pemuda melahirkan ikrar pemuda yang disebut Sumpah Pemuda.

    Kongres tersebut dinamai dengan Kongres I, II, dan III. Salah satu tokoh Sumpah Pemuda yang terlibat dalam Kongres II adalah Mohammad Yamin.

    Sumpah PemudaIlustrasi Kongres Pemuda saat merumuskan Sumpah Pemuda (MERAH PUTIH)

    Posisi Yamin di sana untuk menyatukan para pemuda melalui bahasa dengan menggunakan keahliannya sebagai sastrawan dan penyair, seperti yang tertera pada Kompas lewat buku Menguak Misteri Sejarah (2010).

    Dia juga mengusulkan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan dalam Kongres Pemuda I.

    "Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa bahasa Melayu lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan dan bahasa persatuan yang ditentukan untuk orang Indonesia. Dan kebudayaan Indonesia masa depan akan mendapatkan pengungkapannya dalam bahasa itu," pidato Yamin, dikutip dari buku Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003).

    Kawula Muda, kita lihat yuk apa saja fakta-fakta Mohammad Yamin dalam menulis perumusan Sumpah Pemuda.

    Menulis teks Sumpah Pemuda di Umur 25 Tahun

    Muhammad Yamin lahir si Sawahlunto, Sumatra Barat pada 22 Agustus 1903. Sebelum lulus di Recht Hige School (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta, ia adalah mahasiswa yang aktif dari beberapa organisasi termasuk Jong Sumatranen Bond (Organisasi Pemuda Sumatra).

    Yamin berkarier sebagai seorang penulis pada 1920-an dengan karya-karyanya yang berbentuk bahasa Melayu klasik.

    Ia terus menuangkan tulisannya dengan gaya semangat akan pemuda Indonesia. Melansir dari Kumparan, karya Tumpah Darahku sangat penting dalam sejarah. Saat itulah Muhammad Yamin dan beberapa pejuang kemerdekaan lainnya memutuskan untuk menghormati satu Tanah Air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia dalam peristiwa Sumpah Pemuda.

    Di tahun 1928, di usianya mudanya 25 tahun, Yamin menuliskan teks Sumpah Pemuda.

    Sempat menolak fusi organisasi pemuda

    Sumpah PemudaIlustrasi Kongres Pemuda saat merumuskan Sumpah Pemuda (POJOK SATU)

    Selama perumusan Sumpah Pemuda, walau gagasan Yamin akan persatuan disetujui, para tokoh Sumpah Pemuda tidak sepakat untuk menyatukan diri ke dalam sebuah organisasi payung pada Kongres I.

    Sebelumnya, para kelompok pemuda setuju untuk menyatukan perjuangan demi kepentingan bangsa sejak pidato Yamin.

    Namun Yamin menolak dilakukannya fusi (penyederhanaan atau penggabungan) organisasi pemuda dan lebih memilih membentuk federasi dari beberapa perkumpulan yang ada.

    Menurutnya, perkumpulan dari masing-masing daerah bisa lebih bergerak bebas tanpa adanya sebuah aturan yang melekat.

    Lahirnya teks Sumpah Pemuda

    Sikap Yamin menolak penyatuan organisasi pemuda tanpa membawakan daerah-daerah, terus bertahan hingga pembukaan Kongres Pemuda II.

    Yamin tetap berharap di Kongres kali ini bisa menghasilkan sebuah kesepakatan yang berdampak luas dan tidak ingin berakhir dengan tangan kosong. 

    Mulai di sini, dirinya menuliskan gagasan tentang Sumpah Pemuda.

    "Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya punya rumusan resolusi yang elegan)," kata Yamin kepada Soegondo, dikutip dari buku Mengenang Mahaputra Prof. Mr. H. Muhammad Yamin Pahlawan Nasional RI (2003), dari laman Kompas.

    Rumusan ini disebut dengan nama Sumpah Pemuda, yang berbunyi:

    Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

    Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.

    Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

    Akhirnya, setelah Kongres Pemuda II, sikap Yamin tentang fusi organisasi kepemudaan mulai diterimanya. Pada 1930, semua organisasi pemuda pun bersatu dalam satu wadah, yaitu Indonesia Muda.

    Presiden Soekarno kemudian menetapkan 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda, melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

    Editor Team

    COMMENT