Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    >
    Oct 06 2022

    Viral Tulisan ACAB dan 1312 Usai Tragedi Kanjuruhan, Ini Arti dan Awal Mulanya!

    Kawula Muda, ACAB dan 1312 semakin populer lewat musik!

    Coretan ACAB dan 1312 warnai sejumlah tembok di Stadion Kanjuruhan. (KOMPASTV)


    Beberapa waktu terakhir, usai tragedi kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (01/10/2022), viral tagar bertuliskan ACAB dan 1312 di sejumlah media sosial terutama Twitter. Banyak pengguna Twitter menyematkan #ACAB, #1312, #ACAB1312 di unggahan mereka.

    “Tangga beton dan pagar besi itu juga tau siapa pelakunya, #UsutTuntasTragediKanjuruhan #ACAB1312 #prayformalang”

    “Tidak ada sepakbola yang sebanding dengan nyawa. Usut tuntas semua pihak yang terlibat dalam peristiwa ini! #PrayForKanjuruhan #ACAB1312 #UsutTuntas”

    “Soal gas air mata, Polisi pake SOP sendiri, padahal tau dan udh dikasih tau kalau gak boleh. Jadi kesimpulannya, mereka memang mau membunuh. ACAB”

    “musuh kita bukan sesama supporter, sudahi rivalitas yg over, musuh kita yg sesungguhnya adalah 1312.”

    TIdak hanya ramai di media sosial, tulisan ACAB dan 1312 juga banyak terpampang di dinding Stadion Kanjuruhan usai tragedi yang telah menewaskan ratusan orang tersebut.

    Apa sebenarnya arti ACAB dan 1312? 

    ACAB dan 1312 sebenarnya telah lama digunakan di berbagai penjuru dunia. ACAB merupakan akronim dari bahasa Inggris “All Coppers/cops are Bastards” yang jika diartikan adalah "Semua Polisi adalah Bajingan".

    Sementara, kode 1312 adalah slogan ACAB yang dibaca secara numerik. Cara membacanya adalah deretan alfabet yaitu 1=A, 3=C, 1=A, 2=B. Jadi 1312 sama saja dengan ACAB.

    Kode ini biasanya dipakai sebagai slogan universal untuk menunjukkan kritik terhadap polisi. Pemakaian kode ACAB sering kali dipakai sebagai aksi protes dan ungkapan kekecewaan terhadap perilaku tidak benar yang dilakukan para aparat penegak hukum terutama polisi.

    Tragedi KanjuruhanTragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur (CNN INDONESIA)

     

    Awal mula ACAB

    Akronim ACAB sebenarnya telah lama dipakai di Inggris. Pada abad 19, Inggris sebagai negara pertama di era modern yang menciptakan sistem kepolisian, memberikan tugas aparat kepolisian untuk menghadapi warga sipil.

    Dulu, polisi Inggris bertugas untuk menghentikan unjuk rasa yang digelar petani miskin Irlandia karena kelaparan. Saat itu, polisi diberikan kewenangan untuk memukul siapapun yang melawan.

    Polisi juga diperintahkan untuk mendisiplinkan para pekerja di London dan Liverpool yang menganggur dan berkeliaran di jalanan kota. Di mata penduduk Inggris saat itu, tidak ada polisi yang baik dan mengayomi masyarakat.

    Sejak saat itu, kelas pekerja di Inggris akhirnya mencetuskan akronim “all coppers are bastards”. Hingga saat ini tidak diketahui siapa pencetus pertama akronim ACAB.

    Tulisan ACAB secara tertulis ditemukan dalam lirik lagu rakyat Inggris pada 1920-an yang berbunyi,”I’ll sing you a song, it’s not very long: all coppers are bastards.”

    Lagu ini bisa didengar dalam sebuah film dokumenter berjudul We Are The Lambeth Boys, ketika sekelompok buruh remaja menyanyikan lirik lagu tersebut untuk seorang polisi yang mereka lihat di jalan.

    Menurut Lexikografer Eric Partridge dalam bukunya yang berjudul A Dictionary of Catch Phrases menyatakan ACAB mulai populer dan menyebar ke berbagai negara di abad 20.

    Ketika konsep polisi mulai menyebar ke negara lainnya, akronim ACAB juga ikut diadopsi. Di Prancis, ACAB diterjemahkan menjadi “Tout le monde deteste la police” atau jika diartikan menjadi “semua orang benci polisi”.

    Terkadang ACAB juga diubah menjadi “All those in authority are bastards” untuk mengungkapkan kekecewaan bukan hanya terhadap polisi tapi juga penguasa.

    Musik membuat akronim ACAB makin populer

    Kebangkitan musik punk pada 1970-an menjadi salah satu penyebab pemakaian akronim ACAB makin populer di dunia internasional. Salah satunya adalah kiprah band The 4 Skins dari London yang sempat merilis lagu berjudul A.C.A.B pada 1982.

    Di Jerman, ACAB juga menjadi judul lagu band punk yang berideologi antifasis slime. Setelah itu, akronim ACAB mulai banyak digunakan di berbagai genre musik lain seperti rap dan techno.

    Penggunaan akronim ACAB juga banyak digunakan di dunia olahraga, terutama sepakbola. Para supporter fanatik Inggris yang kerap disapa Hooligan sering menggunakan akronim tersebut pada 1970-an.

    Kode ACAB sempat kembali populer pada saat para aktivis menggelar unjuk rasa di berbagai negara untuk memprotes aksi kekerasan yang dilakukan oleh polisi Amerika Serikat yang menewaskan warga kulit hitam bernama George Flyod.

    ACAB di Kanjuruhan

    Tragedi KanjuruhanTragedi Kanjuruhan (Reuters/Aditya Irawan)

     

    Dan kini, akronim ACAB digaungkan kembali masyarakat Indonesia setelah tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Tengah. Ini menjadi satu bentuk aksi protes sejumlah masyarakat Indonesia yang marah atas tindakan polisi dalam menangani kerusuhan di Stadion Kanjuruhan saat laga final Arema FC vs Persebaya pekan lalu.

    Ditembakkannya gas air mata oleh kepolisian ke arah para supporter disebut-sebut sebagai penyebab terbesar kematian ratusan orang saat itu.

    Di sejumlah tembok Stadion Kanjuruhan pun dihiasi coretan bertuliskan " No Justice No Peace A.C.A.B", "1.3.1.2" "Rest In Peace Saudaraku" hingga "Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan".   

    Editor Team

    COMMENT