Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    >
    Sep 19 2022

    WHO Sebut Status Pandemi Covid-19 Dapat Dicabut Akhir Tahun Ini

    Karena tren kasusnya udah turun banget, Kawula Muda!

    World Health Organization (WHO) (REUTERS)


    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebut status pandemi untuk Covid-19 berkesempatan untuk dicabut akhir tahun ini.

    “Bahwa kalau saya ekspektasi estimasi optimistis akhir tahun ini paling cepat atau awal tahun depan bisa dicabut status pandeminya,” tutur panel ahli WHO terkait Covid-19, Dicky Budiman, mengutip Detik pada Senin (19/09/2022). 

    Ilustrasi Covid-19Ilustrasi Covid-19. (PIXABAY)

     

    Lebih lanjut, hal tersebut dikarenakan manfaat vaksin yang terlihat jelas untuk menurunkan tren Covid-19. “Vaksin ini sangat jelas dalam menurunkan keparahan maupun fatalitas kematian,” tambah Dicky. 

    “Kemudian meskipun (vaksinasi) tidak 100 persen, tapi ada lah pengurangan jumlah virus yang ditularkan dari orang yang terinfeksi tapi dia sudah divaksinasi apalagi dua dosis, tiga dosis,” tambahnya.

    Hal yang sama pun disebut oleh Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Ia menambahkan bahwa kondisi covid-19 di dunia sudah semakin membaik. Karena itulah, prediksi paling baik yakni pandemi dapat berakhir secepatnya. 

    Nantinya, apabila sudah mencabut status pandemi, WHO akan mengumumkan panduan terkait pandemi untuk pemerintah. 

    Hal itu mulai dari pengujian, vaksinasi, pengelolaan rumah sakit, langkah pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan, pencegahan penyebaran informasi tidak benar, hingga keterlibatan masyarakat. 

    Walau begitu, Juru Bicara Kemenkes RI, Mohammad Syahril, mengatakan bahwa protokol kesehatan tetap harus dilaksanakan. Hal itu mengingat walau status pandemi sudah dicabut, bukan berarti masyarakat global telah terbebas dari Covid-19.

    “Saya sepakat dengan Dirjen WHO ini seperti maraton seperti lomba siapa cepat nih, kita atau virus itu, karena kalau dibiarkan dia akan bisa melahirkan varian baru yang lebih merugikan dan bisa berdampak serius menurunkan antibodi,” tutur epidemiologi dari Universitas Griffith Australia. 

    Editor Team

    COMMENT