Molka, Sisi Kelam Korea Selatan yang Menghantui Para Perempuan

Kawula Muda, sejumlah selebritas Korea Selatan pernah terlibat dalam kejahatan molka!

Ilustrasi gambar yang diambil diam-diam. (FREEPIK)
Mon, 24 Oct 2022


Molka menjadi salah satu sisi paling kelam di Korea Selatan. Molka bahkan telah menjadi permasalahan bersar bagi kaum perempuan di negara tersebut.

Molka atau mollae camera merupakan aksi merekam secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tersebut. Hasil rekaman video kemudian akan disebarkan.

Kamera-kamera tersembunyi itu membidik kebanyakan kaum perempuan yang sedang melepas pakaian di kamar mandi, di ruang ganti pakaian di pusat pertokoan, gedung olah raga, ataupun kolam renang.

Bahkan beberapa kasus mengungkap kamera tersembunyi diletakkan di bawah meja atau sepatu pelaku. Video-video itu kemudian diunggah di berbagai situs porno.

Melansir dari bbc.com, lebih dari 6.000 kasus kamera pengintai terkait pornografi dilaporkan ke polisi tiap tahunnya dan 80 persen korbannya adalah kaum perempuan.

Hal tersebut tentu saja membuat para perempuan di Korea Selatan harus lebih waspada dan teliti saat menggunakan ruang publik, terutama toilet umum.

Kejahatan molka menjadi sangat serius karena biasanya korban akan menjadi depresi dan berujung bunuh diri. Bahkan ratusan kasus molka akhirnya tidak bisa terungkap karena korbannya tidak mau mengungkapnya.

Apalagi dalam beberapa kasus kejahatan molka itu dilakukan oleh para pria yang tak lain adalah teman mereka sendiri ataupun kekasih.

Aksi merekam seseorang dengan diam-diam ini kemudian menjadi momok menakutkan dan meresahkan orang terutama para perempuan di Korea Selatan. Tak jarang kejahatan ini dilakukan secara berkelompok demi mendapatkan kepuasan ataupun keuntungan pribadi.

Mengutip dari tirto.id, menurut Han Sol, aktivis Flaming Feminist Action yang dikutip dari CNA Lifestyle, molka sudah sejak lama menjadi konsumsi para pria Korea. Tidak hanya itu, mereka juga kerap membagikannya sebagai sebuah bentuk hiburan atau sebagai cara untuk memperkuat ‘ikatan persahabatan antar laki-laki’.

Kasus molka paling menghebohkan

Salah satu kasus molka paling menghebohkan di Korea Selatan dikenal dengan nama kasus Burning Sun. Kasus yang terjadi pada 2018 ini melibatkan sejumlah selebritas ternama Korea mulai dari Seungri BIGBANG, Jung Joon Young, Choi Jong Hoon (FT Islands), dan juga Lee Jong Hyun (CNBlue).

Untuk Jun Joon Young sendiri ini bukan kali pertamanya penyanyi itu terlibat dalam kasus molka. Tiga tahun sebelumnya, ia sudah pernah tersandung kasus molka yang melibatkan pacarnya sendiri.

Ada pula perusahaan pemegang merek produk susu terbesar di Korea Selatan yang harus meminta maaf setelah menampilkan adegan seorang pria merekam dengan sembunyi-sembunyi dalam iklannya.

Dalam iklan untuk produk Seoul Milk itu, terdapat adegan di mana seorang pria merekam dengan sembunyi-sembunyi sekelompok perempuan di sebuah taman, sebelum akhirnya para perempuan itu berubah menjadi sapi.

Tak lama setelah iklan ini ditayangkan, masyarakat Korea langsung mengecam. Mereka menilai adegan pria tersebut termasuk dalam kejahatan molka.

Dukungan untuk korban

Banyaknya kasus molka membuat sejumlah pihak akhirnya mendirikan kelompok-kelompok untuk membantu para korban molka dan mencegah agar kejahatan ini tidak semakin membesar.

Salah satunyanya adalah kelompok Ha Yena yang didirikan pada 2015 dan bertujuan untuk menolak kejahatan seksual digital. Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah memblokir salah satu situs paling terkenal bernama Soranet.

Situs ini tercatat memiliki lebih dari satu juta pengguna dan mengunggah berbagai video yang direkam dan dibagikan tanpa sepengetahuan atau persetujuan dari para perempuan yang ditampilkan dalam video itu.

Banyak video diambil secara diam-diam dari ruang ganti atau toilet, ataupun diunggah oleh mantan pasangannya sebagai aksi balas dendam.

Sejumlah perempuan yang muncul dalam situs tersebut kebanyakan akhirnya melakukan bunuh diri karena merasa malu dan depresi.

Selain itu, beberapa tahun lalu sebanyak 20.000 perempuan Korea pernah melakukan aksi demonstrasi di Hyehwa untuk melawan kejahatan spy cam crime ini.

Para pendemo itu bahkan mencukur habis rambut mereka sebagai bentuk protes terhadap kegagalan pemerintah memberantas aksi kejahatan ini. Demo tersebut pun menjadi demo perempuan terbesar di sepanjang sejarah Korea.

Sulitnya menangkap pelaku

Korea Selatan adalah salah satu negara yang paling maju secara teknologi dan memiliki kecepatan internet nomor wahid di dunia. Korea memimpin dunia dalam kepemilikan ponsel pintar, di mana 90 persen orang dewasa memilikinya dan 93 persen bisa mengakses internet.

Tetapi, kemajuan di bidang teknologi, tidak membuat polisi dengan mudah menangkap pelaku kejahatan ini.

Pemilik situs porno selalu berkilah kalau mereka tidak tahu bahwa video itu direkam secara ilegal. Hal ini pun masih menjadi tanda tanya besar bagi para aktivis perempuan di Korea Selatan.

Tak hanya itu, pihak kepolisian Korea Selatan juga mengaku sangat sulit untuk menangkap pelaku kejahatan ini dan menyeret mereka ke meja hijau.

Bahkan tim khusus yang dibentuk oleh kepolisian pernah melakukan penyisiran kamera tersembunyi di berbagai ruang publik di Seoul. Tapi mereka tidak berhasil menemukannya.

Mengutip bbc.com, seorang Inspektur polisi bernama Park Gwang Mi bahkan telah menghabiskan waktu selama dua tahun untuk mencari kamera tersembunyi di lebih dari 1.500 kamar mandi kawasan Yongsan, Seoul, namun hasilnya nihil.

Menurut Park Gwang Mi, para pelaku sangat lihai. Mereka memasang kamera dan kemudian membongkarnya dalam waktu 15 menit.

Dari 6.465 kasus yang dilaporkan pada 2017, 5.437 orang ditahan. Namun hanya 119 orang yang masuk penjara. Itu berarti hanya 2 persen dari pelaku yang tertangkap. Sungguh satu hal yang sangat ironis!

Belajar dari kasus molka di Korea Selatan, kejahatan ini juga terjadi di Indonesia. Sehingga, ada baiknya untuk para perempuan Indonesia agar selalu waspada saat menggunakan fasilitas publik ya, Kawula Muda!

Berita Lainnya