Dewan Pers Imbau Media agar Tidak Buat Berita Ramalan Terkait Hilangnya Eril

Dewan Pers minta media dan wartawan untuk kedepankan empati

Ilustrasi pers (UNSPLASH/Markus Winkler)
Tue, 31 May 2022


Anak pertama Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Emmiril Khan Mumtadz (Eril) hingga saat ini masih belum ditemukan pasca hilang di Sungai Aare, Swiss sejak Kamis (26/05/2022). Hingga tulisan ini dibuat kabar hilangnya Eril masih jadi perbincangan publik.

Desas-desus hilangnya Eril tampaknya dimanfaatkan sebagian oknum maupun media yang ingin menarik traffic, hasilnya beberapa media memberitakan mengenai prediksi dan ramalan tentang hilangnya Eril yang mengesampingkan kode etik serta empati.

Hal ini ternyata menarik perhatian Ketua Dewan Pers, yakni Azyumardi Azra yang kemudian melarang media di semua platform untuk memberitakan ramalan atau prediksi mengenai tragedi kemanusiaan. Dewan Pers juga mengingatkan pelaku media untuk tetap mengacu pada kode etik pers.

Imbauan kode etik ini disampaikan langsung Dewan Pers yang menanggapi pemberitaan terkait hilangnya Eril di Sungai Aare, Swiss.

“Dewan Pers mengimbau kepada seluruh insan pers dan jajaran news room dari berbagai platform media di Tanah Air untuk bekerja sesuai dengan kode etik dan melakukan pemberitaan dengan penuh tanggung jawab dan berdampak positif bagi publik,” ucap Azyumardi, Minggu (29/5/2022), dikutip dari Antara.

Ridwan Kamil dan Keluarga (Instagram/ataliapr)

Azyumardi juga berpendapat bahwa pers dan karya jurnalistik seharusnya berdampak positif bagi kemanusiaan. Ia juga menambahkan, pers seharusnya bisa menghasilkan karya jurnalistik yang masih berkiblat pada kode etik dan tidak berlebihan dalam memberitakan tragedi kemanusiaan, agar tidak membuat korban tertekan dan merasa bersalah.

Lebih lanjut Dewan Pers mengajak seluruh jajaran redaksi dari berbagai platform media untuk bersama-sama mengedepankan empati dalam karya jurnalistik.

Berita Lainnya