Kenapa Aktivis Iklim Sering Protes dengan Merusak Lukisan Terkenal?

Malah, ada yang setuju sama tindakan mereka, nih Kawula Muda.

Ilustrasi museum (ARCDAILY)
Wed, 26 Oct 2022


Empat orang aktivis kembali melempar sebuah lukisan karya pelukis terkenal, nih. Kini, lukisan Claude Monet di Museum Barberini Postdam di Jerman dilempari kentang tumbuk oleh aktivis iklim. 

Melansir dari Kompas, Selasa (25/10/2022), aksi kelompok Letzte Generation atau Last Generation menyatakan alasan penyerangan mereka itu lewat Twitter.

Aksi ini ternyata menyerukan pemerintah Jerman untuk mengambil langkah drastis demi melindungi iklim dan penggunaan bahan bakar fosil.

"Kami mengajukan pertanyaan yang sama kepada masyarakat seperti 2 wanita dengan #Tomatensuppe di Galeri Nasional London minggu lalu: Apa yang lebih berharga, seni atau kehidupan?" tulisnya.

Lukisan lukisan Grainstacks karya Claude Monet (THE GUARDIAN)

"Jika sebuah lukisan - dengan lemparan #KentangTumbuk atau #SupTomat - diperlukan untuk membuat masyarakat ingat bahwa bahan bakar fosil membunuh kita semua: Maka kami akan mempersembahkan #KentangTumbuk di lukisan!"

Diberitakan oleh VOA, para aktivis iklim juga mengelem tangan mereka ke tembok di bawah lukisan karya Monet. Untungnya, pihak museum melapor bahwa lukisan tidak mengalami kerusakan.

Sebelumnya, peristiwa ini terjadi terlebih dahulu di Inggris pada pertengan Oktober. Mahakarya lukisan SunFlower atau Bunga Matahari karya Van Gogh di Galeri Nasional itu dilempari sop tomat oleh aktivis bernama Anna Holland (20) dan Phoebe Plummer (21). Sama halnya dengan kerjadian di Jerman, lukisan masih dalam kondisi baik.

Bukannya merasa bersalah, mereka justru tidak menyesal atas perilaku yang dilakukan ketika di Pengadilan Westminster Magistrates.

Mengapa para aktivis malah sering melakukan tindakan merusak?

Lukisan Sunflower karya Van Gogh dan lukisan Grainstacks karya Claude Monet (THE GUARDIAN)

Aktivis adalah seorang yang aktif dalam mengampanyekan perubahan, biasanya pada isu-isu politik, sosial atau lingkungan.

Namun, sering kali aktivis di luar negeri seperti yang terjadi di Inggris dan Jerman ini menimbulkan kerusakan. Bukan main-main, mereka berhadapan dengan barang atau peninggalan yang bersejarah seperti lukisan.

Sebenarnya, tujuan mereka sama yaitu dengan kasus iklim dengan menagih tanggung jawab dari semua pemerintah, korporasi, dan lembaga agar segera bertindak mengatasi krisis iklim dan ekologi.

Lalu, kenapa harus melempar ke lukisan, ya Kawula Muda?

Selama berabad-abad, seni, kreativitas, dan imajinasi tetap hidup persis seperti yang diperjuangkan oleh aktivis Just Stop Oil. Dikutip dari The Guardian, untuk merusak karya-karya semacam seniman seperti Van Gogh mendiskreditkan seruan para pengunjuk rasa sendiri untuk visi kemanusiaan yang lebih baik dan lebih tanpa pamrih.

Lance Fennell, penduduk asal Milton Keynes, Inggris mengatakan, tindakan ini justru tepat dilakukan untuk menyoroti protes iklim.

Menurutnya, protes akan diabaikan kecuali mereka melewati batas yang menurut banyak orang tidak dapat diterima, terutama ketika memakai karya agung yang sangat disukai di Galeri Nasional.

Aksi oleh kelompok kecil atau individu memperkuat rasa aktivis sebagai bagian pendukung pasif yang bergantung pada orang lain untuk menyuarakan protes mereka. 

Makanya, aksi massa dan kolektif lebih bertindak tegas daripada aksi yang sebagian besar diarahkan untuk jadi sorotan media.

Aktivis yang layak dapat dukungan publik?

Lukisan Sunflower karya Van Gogh yang dilempar sup tomat oleh aktivis iklim Just Stop Oil (NEWS18)

Mengotori lukisan bersejarah hingga membuat kerumunan di museum, bisa dikatakan tindakan yang tidak patut dilakukan. Akan tetapi, aktivis iklim ini disebut layak mendapatkan dukungan oleh publik, loh.

Seperti pada laman The Conversation, terdapat alasan mengapa mereka harus berada di pihak kita.

Museum dan galeri seni telah lama digunakan oleh perusahaan bahan bakar fosil untuk tujuan pendanaan seni dan budaya. Selain itu, museum bekerja sama dengan sponsor dari perusahaan minyak. Itulah kenapa para aktivis sering menyerang museum.

Aktivis iklim, Just Stop Oil juga yang merusak lukisan Van Gogh juga berargumen bahwa banyak orang yang tidak mampu membeli dan memanaskan sup karena krisis energi.

Disebut juga, aksi Just Stop Oil dengan sup di lukisan Sunflowers adalah melambangkan bahwa kita sedang menyerang sesuatu yang kita cintai. Tingkat kemarahan pada mereka yang secara simbolis merusak sebuah karya seni yang berharga harus diberikan satu juta kali lipat kepada mereka yang benar-benar merusak planet kita yang berharga.

Dijatuhi hukuman

Dilansir dari Liputan6, Pejabat museum angkat suara terkait para aktivis yang mengotori kepada lukisan.

"Sementara saya memahami keprihatinan mendesak para aktivis dalam menghadapi bencana iklim, saya terkejut dengan cara mereka mencoba memberi bobot pada tuntutan mereka," kata Direktur Museum Ortrud Westheider dalam sebuah pernyataan.

Pejabat pemerintah yang berhaluan kiri di Potsdam dan negara bagian Brandenburg di Jerman pun mengutuk tindakan tersebut. "Perjuangan melawan krisis iklim tidak diperkuat dengan serangan terhadap lukisan terkenal," terang Pemimpin Partai Hijau Brandenburg, Ursula Nonnemacher di Twitter. "Sebaliknya, kita membutuhkan konsensus sosial yang luas."

Berdasarkan laman Tempo, polisi mengatakan kepada Direktur Museum bahwa mereka telah menanggapi insiden itu, tetapi tidak memberikan informasi lebih lanjut tentang penangkapan atau dakwaan.

Meskipun lukisan Monet tidak mengalami kerusakan, Museum Barberini menyatakan lukisan diperkirakan akan kembali dipajang pada Rabu mendatang.

Berita Lainnya