Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    Oct 29 2022

    The Weed Nuns, “Biarawati” Pembudi Daya Ganja Medis yang Raup Rp18 Miliar per Tahun

    Kawula Muda, mereka bagian dari kelompok bernama The Sister of the Valley yang terkenal di AS.

    Sekelompok perempuan yang menamakan diri mereka The Weed Nuns, pembudi daya ganja di AS. (REUTERS)

    Berpakaian seperti layaknya biarawati dengan kerudung dan baju berwarna hitam dan putih, membuat banyak orang mengira The Weed Nuns adalah seorang biarawati Katolik. Namun, The Weed Nuns tidak mewakili kelompok agama tertentu.

    The Weed Nuns merupakan anggota dari kelompok persaudaraan yang meyakini kekuatan medis ganja. Mereka dikenal dengan kelompok The Sisters of the Valley.

    Ya, sekelompok perempuan berpakaian ala biarawati ini mengaku mereka sebagai penyembuh, feminis, dan juga pebisnis. Dikenal dengan the Weed Nuns karena mereka membudi dayakan ganja di tempat tinggal mereka.

    Kelompok organisasi ini menanam ganja di lahan yang terletak di California, Amerika Serikat, di antara rimbunnya kebun anggur dan apel.

    Para biarawati ini dipimpin oleh Suster Kate yang merupakan ketua kelompok dan sudah menyatakan bahwa mereka adalah biarawati yang menanam ganja untuk kebutuhan medis.

    Mereka memanfaatkan kandungan canabidiol (CBS) untuk keperluan medis. Mereka juga mengklaim bahwa mariyuana berkhasiat untuk pengobatan dan bisa mengembangkan cairan untuk membuat konsumennya tidak akan merasakan teler.

    Suster Kate mengungkap bahwa bisnis ganja ini mulai berkembang sejak pergerakan Occupy Wall Street yang terjadi pada 2011. Karena itu, dia dan sejumlah orang mempunyai visi sama untuk tinggal di sebuah lingkungan dan memulai “sosialisme sehat”.

    Melansir dari BBC.com, menurut Suster Kate, bangunan dan lahan yang terletak di California menjadi tempat yang baik untuk memproduksi ganja.

    Tidak hanya mengelola kebun ganja, para The Weed Nuns ini juga membuat usaha peracikan obat berbahan dasar ganja, salah satunya salep ganja. Mereka menjual obat untuk berbagai jenis keluhan seperti asma, radang sendi, hingga kecemasan.

    Setelah ganja dipanen, mereka akan mengeringkannya dan memasak menggunakan minyak kelapa. Setelah itu, mereka akan meniriskan, mencampurkannya dengan minyak tertentu, sebelum kemudian menuang cairan racikan ke botol untuk dijual.

    THE WEED NUNSThe Weed Nuns, "biarawati" yang menanam ganja. (TWITTER/BOOOM}

     

    Enggak usah kaget dan bingung ya, Kawula Muda, karena Amerika merupakan negara pertama yang melegalkan ganja medis pada 1996. Lalu pada 2016 lalu, ganja rekreasi juga telah dilegalkan.

    Tapi, tidak semua negara bagian menerapkan aturan yang sama. Hampir dua pertiga kota California telah melarang bisnis ganja, dan wilayah lainnya sangat sulit untuk mendapatkan izin. Hal inilah yang membuat usaha ganja para The Weed Nuns ini sedikit terkendala.

    Sebelum pandemi Covid-19, usaha yang dilakukan oleh The Weed Nuns bisa menghasilkan hingga 1,2 juta dolar AS atau sekitar Rp18 miliar per tahun.

    Para "biarawati" ini sempat ingin menjual obat berbahan ganja melalui apotek secara resmi. Namun, karena banyaknya aturan dan pungutan pajak yang tinggi membuat mereka urung melakukan langkah tersebut.

    BBC menyebutkan bahwa perdagangan ganja ilegal diperkirakan bernilai sekitar 8 miliar dolar AS, kira-kira dua kali lebih besar dari perdagangan legal di California pada 2021. Pelanggan utama produk dari The Weed Nuns ini berasal dari Kanada, Australia, dan juga Amerika Serikat.

    Suster Kate juga mengaku bahwa usaha yang mereka jalankan awalnya tidak berlangsung mulus bahkan tergolong kontroversial. Mereka sempat mendapatkan telepon bernada penuh ancaman.

    Namun, akhirnya pihak Katolik mulai mengerti apa yang mereka lakukan, apalagi setelah melihat orang-orang sakit yang mereka tangani, salah satunya penderita kanker.

    Menurut Kate, mereka menganggap diri sebagai biarawati karena mereka mengabdikan diri untuk menyembuhkan orang sakit.

    “Kami tidak menghabiskan waktu dengan berlutut. Tetapi, ketika kami membuat obat, ini seperti kami berdoa,” ujar Kate, seperti yang dikutip dari Kompas.com.

    Selain itu, tak jarang mereka harus berurusan dengan penegak hukum. Jika sampai mereka melakukan kesalahan sedikit saja, maka usaha yang mereka jalankan segera ditutup.

    Bagaimana menurut kalian tentang The Weed Nuns ini, Kawula Muda? 

    Editor Team

    COMMENT