Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    >
    Jan 20 2023

    2,8 Juta Pengangguran di Indonesia 'Hopeless' Dapat Kerja

    Semangat kamu!!

    Ilustrasi pengangguran (UNSPLASH)


    Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) menyatakan 2,8 juta pengangguran di Indonesia sudah mengalami hopeless of job alias pasrah dalam mencari pekerjaan. Angka tersebut merupakan 33,45 persen dari total 8,4 juta pengangguran di Indonesia. 

    Menaker Ida Fauziyah menyatakan pendidikan yang rendah merupakan faktor utama dari keputusasaan tersebut. Dari 2,8 juta total pengangguran yang hopeless, rupanya 76,9% di antaranya berpendidikan rendah atau lulusan SMP ke bawah. 

    Ilustrasi pengangguranIlustrasi pengangguran (UNSPLASH/Zacdurant)

     

    "Jadi karena tingkat pendidikan rendah, mereka tak memiliki harapan untuk memiliki pekerjaan. Ini mengindikasikan tingkat pendidikan mereka tak mampu menyiapkan mereka memasuki pasar kerja, baik pendidikan yang rendah maupun kompetensi mereka," katanya dalam Rakornas Kepala Daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan di Daerah (Forkopimda) di Bogor, Selasa (17/01/2023) dikutip dari Kompas. 

    Mengutip laman DataIndonesia, tren angka putus sekolah terlihat sangat tinggi pada 2016, menurut pada 2020, tetapi kembali merangkak naik pada 2022. Hal tersebut terjadi di seluruh jenjang pendidikan, baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). 

    Putus sekolah saat SMA memiliki persentase yang paling tinggi dari jenjang pendidikan lainnya. Pada 2016 misalnya. Angka putus sekolah di jenjang SMA mencapai 4,98%. Putus sekolah di jenjang SMP pun mencapai 4,6% dan di jenjang SD mencapai 0,76%. 

    Secara rinci, angka putus sekolah di jenjang SMA mencapai 1,38% atau terdapat 13 dari 1.000 siswa pada 2022. Kemudian, angka putus sekolah di jenjang SMP tercatat sebesar 1,06% dan angka putus sekolah di jenjang SD sebesar 0,13%.

    Tak hanya pendidikan yang rendah, faktor lainnya yang mendorong keputusasaan tersebut adalah tekanan penciptaan lapangan kerja, nilai budaya baru, serta risiko ketidaksesuaian permintaan kerja akibat digitalisasi. 

    Nilai budaya baru sudah terlihat pada masa kini, terutama pada generasi muda. “Generasi Y dan Z yang masuk dalam pasar kerja telah membawa nilai-nilai budaya kerja baru. Misalnya nilai work-life-balance, pekerjaan yang bermakna, dan worktainment,” lanjut Ida. 

    Digitalisasi, menurutnya, mendorong perubahan keterampilan kerja, pola hubungan kerja, hingga fleksibilitas waktu dan tempat. 

    Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2022 lalu. Jumlah TPT tersebut adalah 5,82 persen dengan total 8,42 juta pengangguran di seluruh wilayah Indonesia. 

    Pengangguran tersebut pun banyak tersebar di perkotaan, yakni sekitar 7,74%. Sementara itu, TPT di desa memiliki persentase 3,43%. 

    Covid-19 menjadi salah satu pendorong faktor angka pengangguran tersebut. Disebutkan, terdapat 4,15 juta orang penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19.  

    Editor Team

    COMMENT