Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    Apr 02 2021

    ZA, Penyerang Mabes Polri adalah Teroris “Lone Wolf”, Apa Artinya?

    Hai Kawula Muda, istilah lone wolf sedang ramai dibicarakan, apa itu?

    ZA, pelaku penyerangan Mabes Polri, Rabu (31/3/2021). (ISTIMEWA/DETIK.COM)

    Serangan seorang perempuan berinisial ZA yang melepaskan enam kali tembakan di Mabes Polri pada Rabu (31/3/2021) mengejutkan banyak pihak dan masih menjadi pemberitaan hingga saat ini.

    Salah satu yang menjadi pembahasan para pengamat adalah tentang pelaku yang melakukan aksinya seorang diri.

    Menurut keterangan Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo kepada wartawan di Mabes Polri, Rabu (31/3/2021) malam, tersangka teroris ZA merupakan lone wolf berideologi ISIS.

    “Yang bersangkutan ini adalah tersangka atau pelaku lone wolf berideologi ISIS. Terbukti dari postingannya di sosial media,” ujar Jenderal Sigit.

    Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pelaku yang berusia 25 tahun membuat akun Instagram beberapa jam sebelum beaksi. Di akun tersebut terdapat unggahan bendera ISIS dan keterangan tulisan terkait ISIS.

    MABES POLRIAksi teror yang dilakukan oleh seorang pelaku terduga teroris di Mabes Polri pada Rabu, 31 Maret 2021.(TWITTER)

     

    Apa itu lone wolf?

    Pengamat terorisme Community of Ideological Islamic Analyst (CIA) Harits Abu Ulya mengatakan, lone wolf adalah sebutan bagi mereka yang melakukan aksi teror seorang diri.

    Aksi itu merupakan inisiatif pribadi atau tidak didesain oleh kelompok tertentu. Di tengah melemahnya kelompok ekstrem di Indonesia, Harits menganggap sosok lone wolf ini menjadi ancaman baru.

    Pemicu mereka melakukan aksi teror bukan hanya didominasi penegakan ideologi, tetapi juga dilatari persoalan pribadi atau keluarga.

    “Tidak selalu keyakinan yang beku. Soal perut yang lapar juga bisa mendorong seseorang melaksanakan aksi teror. Atau karena kondisi labil dan depresi, bisa saja seseorang melakukan aksi nekat,” ujar Harits.

    Sementara dikutip dari CNNIndonesia, Kamis (1/4/2021), Pengamat Intelijen dan Keamanan Negara, Stanislaus Riyanta juga mengungkapkan hal senada bahwa pelaku teror lone wolf tak terafiliasi dengan organisasi apapun. Lone wolf selalu bergerak sendiri.

    Menurutnya, istilah lone wolf banyak digunakan dalam dunia terorisme saat ini. Banyak juga jurnal ilmiah yang menganalisis pergerakan teroris tunggal ini.

    Tercipta dari radikalisme via internet

    Menurut Stanislaus, pelaku lone wolf biasanya terpapar ideologi ISIS melalui swaradikalisasi. Mereka mendapatkan informasi dari medium-medium digital yang mudah diakses, seperti internet dan lainnya.

    “Pelaku ini mempunyai tujuan pribadi dan tujuan ideologi karena keyakinan akan mencapai kemuliaan surga dengan cara melakukan aksi melawan pihak yang dianggap thaghut atau musuh,” kata Stanislaus lagi.

    Ia juga mengatakan, di Indonesia fenomena penyerangan tunggal ini sudah dapat diprediksi sejak dua tahun lalu. Sejak saat itu, banyak pelaku lone wolf yang menyasar anggota Polri.

    Pemikirian-pemikiran kelompok teror seperti ISIS, Jamaah ASharut Daulah (JAD), dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), seringkali menganggap polisi sebagai musuh yang harus diperangi.

    Editor Team

    COMMENT