Fakta Lengkap Kasus Dua Remaja Makassar Culik Anak untuk Dijual Organnya

Prambors turut berduka cita :(

Rekaman CCTV pelaku membawa korban dengan sepeda motor (kiri) wajah pelaku pembunuhan di Makassar dengan tujuan awal ingin menjual organ (kanan) (KOLASE PRAMBORS)
Fri, 13 Jan 2023

Dua remaja asal Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), A (17) dan F (14), menculik dan membunuh seorang anak bernama M Fadli Sadewa (11). Hal itu mereka lakukan karena tergiur dengan uang dari penjualan organ.

"Satu ginjal harga ratusan juta di situ, kepikiran kalau berhasil bisa saya belikan kakak saya laptop dan bisa kubantu bangun rumah ini. Iya, (dapat info jual organ) di internet," tutur A saat diamankan polisi, Selasa (10/01/2023) mengutip CNNIndonesia.

A (17) dan F (14), menculik dan membunuh seorang anak bernama M Fadli Sadewa (11) karena tergiur dengan uang hasil penjualan organ (KOMPASID/ARI AYU ARMAN)

 

Aksi tersebut dilakukan oleh kedua pelajar SMA di Makassar tersebut pada Minggu (08/01/2022). 

Kepada polisi, bibi korban, Aisyah (23) menjelaskan bahwa Fadli tengah berada di depan minimarket bersama Alif (12) pada hari tersebut. Mereka memang terbiasa mengisi waktu luang dengan menjadi juru parkir di depan minimarket.

Mereka memang dikenal sebagai anak yang giat bekerja. Tak hanya menjadi juru parkir, pekerjaan seperti kuli angkat barang di pasar juga dilakoni untuk mendapat uang jajan tambahan. 

Menurut pengakuan Alif, pelaku sudah melakukan pengamatan terhadap sepupunya tersebut sejak pukul 16.00 WITA. Kemudian, pada pukul 17.30 WITA, pelaku baru menghampiri Fadli. 

A pun mengajak Fadli pergi dengan iming-iming pekerjaan membersihkan rumah. Ia dijanjikan akan dibayar sebesar Rp 50.000 apabila Fadli mengikuti mereka. Walau sempat dilarang oleh Alif, Fadli tetap naik ke sepeda motor A.

Setelah Fadli dibawa menggunakan motor, Alif pulang dan melaporkannya kepada sang nenek, Aminah. 

Fadli diketahui tinggal bersama neneknya, Aminah. Sementara itu, kedua orang tuanya tinggal di rumah terpisah. Aminah pun panik dan meminta sang sepupu untuk mencari Fadli. 

Setelah keliling mencari cucunya di beberapa tempat, jejak Fadli masih tidak ditemukan. Sempat terbesit keinginan untuk melapor ke polisi, tetapi laporan tidak dapat diproses karena waktu hilang Fadli belum mencapai 24 jam. 

“Sepanjang malam kami berpencar mencari. Akhirnya, besoknya kami laporkan kembali ke polisi,” ujar Aisyah mengutip Kompas. 

Penjelasan Pelaku

Sebelum melancarkan aksinya, A mengaku mendapat informasi penjualan organ tubuh di salah satu laman. Ia pun mencoba menghubungi situs penjualan tersebut lewat alamat surat elektronik.

A awalnya ingin menyerahkan korban secara langsung kepada pemilik situs tersebut. Namun, surat elektronik yang ia kirim tidak kunjung dibalas. 

“Saya coba menghubungi dan menawarkan soal organ tubuh. Setelah itu, saya menculik korban, lalu saya bawa ke rumah. Tadinya saya mau serahkan utuh kepada orang yang berminat. Ternyata surat elektronik yang saya kirim tidak dibalas. Karena bingung, saya panggil teman, lalu korban kami bunuh,” ungkapnya mengutip Kompas. 

Pada Minggu (08/01/2023), ia pun mulai melancarkan aksinya. Dari rekaman CCTV, terlihat korban hanya dibawa oleh seorang pengendara motor. Pengendara itu adalah A sekaligus ‘pemimpin’ dari percobaan penjualan organ tersebut. 


A mengatakan ia sebenarnya mengenal korban. Ia pun menyatakan memilih korban karena tinggi badan yang sesuai dengan syarat tinggi badan yang tertera pada situs di internet. 

A pada awalnya mengajak korban ke rumah F. Setelahnya, mereka berdua melaju ke rumah A di Jalan Batua Raya. Sesampainya di rumah A, mereka mulai melancarkan aksinya dengan membuka laptop dan memakaikan korban headset. 

“Kemudian A mencekik korban dari belakang, lalu membenturkan korban ke tembok sebanyak tiga hingga lima kali dan mengikat kaki korban," ucap Kasi Humas Polrestabes Makassar Kompol Lando KS mengutip CNNIndonesia. 

Setelah tidak bernyawa, A ingin mengambil ginjal sang korban. Namun, ia tidak tahu di mana letak ginjal dan bagaimana cara mengambilnya. 

"Saya mau ambil ginjal, namun tidak tahu di mana," kata A menjawab pertanyaan polisi di Polrestabes Makassar, Selasa (10/01/2023) mengutip Kumparan.

Ginjal itu, menurut A, akan ia jual sesuai dengan harga yang tertera pada situs. Sebelumnya, ia membaca ginjal dapat dihargai 80 ribu dolar AS atau setara Rp 1,2 miliar. 

“Tadinya uang yang akan didapatkan ini akan saya gunakan untuk membangun rumah, membantu orang tua," tutur A.

Mayat Fadli kemudian dibungkus plastik oleh para pelaku dan dibuang di jembatan, Inspeksi Pam Timur Waduk Nipa-nipa, Moncong Loe, Kabupaten Maros. 

Setelah laporan kehilangan dari sang keluarga dapat diproses, polisi menemukan jenazah di waduk tersebut. Dengan cepat, mereka menangkap kedua pelaku. Pembunuhan pun terungkap.

Kedua pelaku pun mulai diperiksa penyidik di Polrestabes Makassar dan jenazah korban dibawa ke rumah sakit Bhayangkara Makassar

Rumah Pelaku Dibongkar Paksa

Setelah ramainya kasus penjualan organ tersebut, puluhan massa pun membongkar paksa rumah dan kios keluarga milik pelaku penculikan di Makassar. Kini, sejumlah bagian dari bangunan tersebut hancur. 

“Kalau di (wilayah) saya, ada kiosnya orang tua terlapor itu jualannya. Bukan dihancurkan tapi dibuka sengnya,” kata Kapolsek Panakkukang, Kompol Abdul Azis kepada Herald Sulsel, Selasa (10/01/2023) mengutip Herald Sulsel. 

Selain kios, rumah pelaku yang berada di Manggala, Makassar turut dihancurkan. Para warga mengaku marah akibat kelakuan para pelaku yang membunuh Fadli. 

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dian Sasmita meminta polisi mengungkap motif lebih lanjut para tersangka. Hal itu untuk mengetahui apakah penculikan dan pembunuhan tersebut terkait faktor tunggal ekonomi atau ada hal lainnya.

Karena pelaku masih tergolong anak-anak, KPAI akan mengawasi proses hukum dua anak pelaku tersebut. Mereka juga menjanjikan pendampingan psikologi agar hak pelaku sebagai anak di bawah umur tetap terpenuhi.

Berita Lainnya