Kemenkes Sebut Ratusan Mahasiswa Bandung Positif HIV adalah Akumulasi Sejak 1991

Jadi bukan dalam setahun tiba-tiba sebanyak itu, Kawula Muda!

Ilustrasi HIV (iSTOCK)
Tue, 30 Aug 2022


Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan konfirmasi terkait kabar bahwa 407 mahasiswa di kota Bandung merupakan pasien HIV/AIDS. Rupanya, jumlah tersebut merupakan akumulasi sejak 1991. 

“Jadi, data tersebut merupakan jumlah akumulasi sejak tahun 1991, bukan data 1 tahun. Kasus ini akumulatif selama 31 tahun,” tutur Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu mengutip Antara pada Selasa (30/08/2022).

HIV AIDS (UNPLASH)

 

Sebelumnya, sempat heboh pemberitaan bahwa terdapat 407 mahasiswa di Bandung yang terbukti positif HIV/AIDS. Namun, Maxi menegaskan bahwa tren kasus per tahun di kota kembang tersebut tidak terlampau tinggi. 

Bahkan, capaian tertinggi di kota tersebut adalah 25 kasus dalam setahun pada 2019 lalu. "Kalau lihat rata-rata per tahun, cuma 11 kasus atau per bulan 1 kasus. Kalau dilihat, dalam setahun ada 11-12 kasus itu perlu antisipasi, sebab satu orang terinfeksi di populasi sangat heterogen misalnya di kampus, itu perlu perhatian dari semua pihak, terutama pemerintah daerah," jelasnya.

Lebih lanjut, Maxi menjelaskan bahwa seluruh temuan kasus tersebut telah diobati dengan Antiretroviral (ARV) untuk mengurangi risiko penularan ke orang lain. Selain itu, teknologi tersebut terbukti dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan menurunkan jumlah virus dalam darah. 

Mengutip data Kemenkes hingga 25 Mei 2021, diketahui virus HIV/AIDS telah dilaporkan oleh 34 Provinsi di Indonesia. Dengan kata lain, hanya terdapat 16 kota yang belum pernah melaporkan virus tersebut. 

Lebih lanjut, jumlah orang yang positif HIV/AIDS yang ditemukan sejak Januari hingga Maret 2021 adalah sebesar 7.650 orang. 

Dari jumlah tersebut, wilayah yang paling banyak ditemukan kasus virus tersebut yakni Jawa Tengah (1.125 kasus), Jawa Barat (1.115 kasus), dan DKI Jakarta (964 kasus). 

Walau begitu, tetap perlu diperhatikan bahwa banyak sekali mahasiswa, yang notabene merupakan usia produktif terkena virus berbahaya tersebut. Pada Januari hingga Maret 2021 misalnya. Sebagian besar ditemukan pada kelompok usia 25 hingga 49 tahun (71,3%) dan mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebesar 69%. 

Berita Lainnya