Kisah Pak Midun Gowes Sepeda dari Malang ke Jakarta Tuntut Tragedi Kanjuruhan

Buntut tragedi Kanjuruhan malang dengan menewaskan 135 nyawa

Kisah Pak Midun Gowes Sepeda dari Malang ke Jakarta (TWITTER/verybulux)
Tue, 15 Aug 2023

Seorang pria paruh baya berusia 52 tahun dengan nama Miftahuddin Ramli atau dikenal Pak Midun melakukan aksi gowes sepeda dari Malang ke Jakarta demi menuntut keadilan tragedi Kanjuruhan.

Pak Midun sampai di Jakarta tepatnya di stadion Gelora Bung Karno pada Selasa (14/08/2023) dengan sepedanya yang dimodifikasi membawa keranda sebagai tambahan pada bagian belakang sepeda. 

Keranda mayat itu dianggap menjadi sebuah symbol dari para korban Tragedi Kanjuruhan dengan tulisan 135, yang merupakan jumlah korban yang tewas.

Diketahui, Pak Midun melakukan perjalanan dari rumahnya di Jalan Darsono Barat, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu pada Kamis (03/08/2023) dengan mengendarai sepeda ontel.

Pak Midun melakukan perjalanan dari Malang ke Jakarta dengan melintas sejumlah stadion, seperti Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Stadion Gajayana Kota Malang, Stadion Gelora Delta Sidoarjo. 

Ia juga melintasi stadion-stadion yang berada di daerah Tapal Kuda, seperti Lamongan, Tuban, Rembang, Pati, Kudus, Demak, Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Brebes, Indramayu, Karawang, Bekasi dan awalnya menargetkan sampai di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta pada hari perayaan HUT RI ke-78 pada 17 Agustus 2023.

Pak Midun mengungkapkan, “Melalui sepeda ini saya ingin berekspresi supaya masyarakat tidak melupakan Tragedi Kanjuruhan. Target saya sampai Jakarta pada 17 Agustus nanti atau bertepatan dengan Hari Kemerdekaan.”

Dilansir dari IDN Times, tujuan Pk Midun melakukan aksi gowes sepeda dari Malang ke Jakarta yaitu menuntut keadilan atas tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 nyawa serta mengingatkan kembali tragedi tersebut yang menurutnya belum menemukan titik terang.

“Yang mendasari, ya, keprihatinan kita sebagai warga Indonesia atas kejadian itu sehingga saya harus gowes ke Senayan karena kan Senayan adalah pusatnya olahraga di sini (Indonesia) dan saya mampir ke daerah-daerah untuk silaturahmi, karena saya lihat memang sudah banyak yang sudah melupakan kejadian itu. Jadi saya ingin mengingatkan kembali,” ucap Pak Midun.

“Ya kalau menurut saya diusut tuntas. Kalau dikembalikan ke pertanyaan lagi, sudah diusut, sudah tuntas, yang salah angin, apakah pantas? Itu kan tinggal menjawab saja, pantas atau tidak,” tambah Pak Midun.

Pak Midun juga sempat menangis saat sampai di tujuan akhir melakukan aksi gowes dengan kerandanya.

“Alhamdulillah sambutannya, pengawalannya, seperti tidak ada sekat, tidak ada yang menghalangi di situ, mereka semua menyambut saya. Saya juga ada pengawalan mulai dari Batu sampai kesini,” ucap Pak Midun.

Dilansir dari Bola Sport, Pak Midun diketahui tiba di perhentian terakhirnya di Stadion Gelora Bung Karno, namun, tidak diperbolehkan masuk ke area ring road Gelora Bung Karno dengan sepedanya itu. Petugas keamanan hanya bisa mengizinkan Pak Midun untuk masuk seorang diri tanpa sepedanya.

"Saya juga minta maaf kepada semuanya, sugeng matur nuwun kepada semuanya, keluarga korban, arek-arek Malang, yang mendoakan saya sampai kesini, suporter seluruh Indonesia, matur suwun, saya bukan siapa-siapa, saya gak punya apa-apa yang hebat adalah mereka, kalian semua mendoakan saya kuat sampai di sini," tutup Pak Midun.



Sebagai Informasi, Kasus tragedi Kanjuruhan telah sampai pada tahap vonis terhadap para terdakwa. Tiga orang terdakwa divonis ringan yang diberikan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya pada Kamis, (16/03/2023).

Dua orang yang terdakwa bebas yakni AKP Bambang Sidik Achmad selaku mantan Kasat Samapta Polres Malang dan Kompol Wahyu Setyo Pranoto selaku mantan Kabag Ops Polres Malang, dan satu terdakwa divonis penjara tergolong ringan selama 1 tahun 6 bulan terhadap AKP Hasdarmawan selaku mantan Danki 1 Brimob Polda Jatim.

Berita Lainnya