“Penyakit X”, Pandemi Berikutnya Ada di Depan Mata! Apa Itu?

Hai Kawula Muda, mencegah lebih baik daripada mengobati. Catat ya!

Ilustrasi orang-orang memakai masker di keseharian mereka. (FREEPIK)
Wed, 06 Jan 2021

Belum juga selesai berurusan dengan pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung setahun terakhir, sebuah pandemi penyakit baru dikabarkan sudah mengintai kita semua.

Dilansir The Straits Times, Covid-19 bukanlah pandemi terakhir yang akan dihadapi dunia. Mungkin beberapa dari kita akan melihat pandemi terjadi lagi di masa depan. Ironisnya, para peneliti meramalkan manusia tetap tidak lebih siap untuk menghadapinya.

Kabar ironi ini disampaikan oleh profesor emeritus pengobatan darurat dari Universitas Arizona, Amerika Serikat, spesialis dalam pengobatan global dan bencana, Dr. Kenneth Iserson.

“Dunia sudah melihat sejumlah penyakit baru yang berpotensi berkembang menjadi Disease X (Penyakit X),” kata Dr Iserson seperti dikutip The Straits Times, Kamis (31/12/2020).

Disease X atau Penyakit X mengacu pada nama placeholder yang mengakui kemungkinan penyakit menular parah yang belum diketahui manusia.

“Mungkin ada penyakit menular lain yang tidak dikenali yang sudah beredar, yang memiliki implikasi menghancurkan,” ujar Iserson lagi.

Ia juga menilai, bagaimana kita menanggapi pandemi Covid-19 adalah cerminan bahwa kita belum belajar banyak untuk mempersiapkan diri menghadapai pandemi berikutnya.

Disease X adalah salah satu dari selusin patogen mematikan, termasuk sindrom pernapasan akut parah (SARS) dan Ebola. Penyakit tersebut adalah prioritas utama penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengingat potensinya yang bisa menyebabkan pandemi Covid-19 adalah Disease X yang menjerumuskan dunia ke dalam krisis pada 2020.

Ilustrasi seorang tenaga kesehatan tengah menguji coba vaksin Covid-19. (FREEPIK)

 

Vaksin bukanlah obat untuk semua

Banyak negara mulai meluncurkan vaksin yang dikembangkan dalam waktu singkat di tahun baru ini. Namun di saat bersamaan, Iserson memperkirakan, mungkin ada penyakit tak dikenal yang bahkan nama dan jejaknya belum terlacak sedang mengintai manusia.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Yayasan Kesehatan Masyarakat India, Dr K. Srinath Reddy mengatakan, kalau vaksin bukan bentuk perlindungan jangka panjang yang pasti.

Hal itu karena mikroba juga akan selalu belajar bermutasi. Lebih peting lagi, pandemi baru dapat mulai dan mendatangkan malapetaka sebelum kita dapat mengembangkan vaksin atau menguji obat untuk melawan mereka.

Jadi, untuk menghadapi pandemi berikutnya, Iserson menegaskan, yang terbaik adalah melakukan pencegahan. Pencegahan meliputi pengawasan internasional yang aktif, terutama di titik panas untuk penyakit baru, seperti China, lembah Amazon, dan Afrika Tengah.

Butuh dana besar

Untuk melakukan upaya pencegahan terjadinya pandemi baru tentu akan membutuhkan dana besar, koordinasi, dan kemauan politik untuk segera mempublikasikan dan bertindak ketika agen penular baru diidentifikasi.

Berkaitan dengan itu, Iserson juga mengatakan, ada pola pengabaian berulang dan itu sudah terjadi selama ribuan tahun.

Direktur Eksekutif Dana Global untuk memerangi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria, Mr Peter Sands menyebut fenomena ini sebagai siklus panik dan pengabaian.

Fenomena muncul Ketika dunia bergegas menyuntikkan dana setelah wabah besar seperti SARS dan Ebola, tetapi segera menghentikan dukungan setelah wabah mereda.

Selain tiu, fokus global pada pandemi saat ini mungkin tanpa disadari telah mengalihkan sumber daya dari beberapa bidang penelitian untuk mencegah pandemi berikutnya, bahkan ketika hal itu datang dengan cepat dan tak terlihat.


Pakai masker untuk mencegah penularan penyakit. (FREEPIK)

 

Belajar dari pengalaman 

Setahun yang lalu, tidak ada yang membayangkan bahwa vaksin dapat dikembangkan dari awal, disetujui oleh regulator, diproduksi dalam jumlah jutaan, dan diluncurkan dalam kampanye inokulasi massal di seluruh dunia dalam hitungan bulan.

Ilmuwan, politis, produsen farmasi di seluruh dunia telah berhasil melewati birokrasi politik yang memecah belah.

Masalah pendanaan yang biasanya mengganggu proses pembuatan vaksin pun dapat diatasi dalam waktu kurang dari satu tahun.

Ini adalah bukti dari pencapaian kerja sama internasional. “Kami harus ingat mengapa (Covid-19) terdeteksi saat itu,” kata Dr Josie Golding, kepala epidemi di penyandang dana penelitian kesehatan global Wellcome.

Ia juga menambahkan, kalau semua itu karena ada pengalaman di China dari SARS dan flu burung, ada sistem untuk mendeteksi pneumonia aneh yang muncul. Begitu pula dengan mempelajari dan menempatkan banyak sistem dan pengalaman di banyak negara.

“Negara-negara yang menangani pandemi lebih baik dan lebih cepat pada awalanya adalah mereka yang mengetahui sejarah itu. Saya pikir itu akan berguna untuk menghadapi Disease X berikutnya,” kata Dr Josie Golding optimis.

Berita Lainnya