Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    Jul 23 2022

    Sejarah Hari Anak Nasional, Harapan Aset Kemajuan Bangsa

    Kongres Wanita Indonesia (Kowani) jadi salah satu pertemuan resmi yang berkontribusi atas terwujudnya Hari Anak Nasional

    Ilustrasi anak-anak (Prambors/Ipan Fanani)

    Anak-anak merupakan makhluk yang hidup yang juga sama memiliki hak untuk terus hidup. Oleh karenanya anak-anak sering kali dianggap sebagai salah satu warisan untuk melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya.

    Pentingnya kehadiran anak-anak membuat presiden Indonesia saat itu, Soeharto membuat sebuah kebijakan. Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 44 Tahun 1984, Presiden Soeharto menetapkan setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional.

    Sejatinya penentuan tanggal Hari Anak Nasional sempat mengalami beberapa kali perubahan. Menurut beberapa sumber, Hari Anak Nasional mulanya tidak diketahui pasti kapan tanggalnya, tetapi pada tahun 1952 terdapat sebuah pawai anak-anak di Istana Merdeka yang disambut langsung oleh Presiden Soekarno. Hal tersebut rupanya lahir ide dari Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

    Setahun setelahnya, sidang Kowani yang diselenggarakan di kota Bandung, merumuskan pekan kanak-kanak Indonesia serta menetapkan pekan kanak-kanak akan dirayakan setiap tahunnya pada minggu kedua bulan Juli, saat libur kenaikan kelas.

    Ilustrasi anak-anakIlustrasi anak-anak (Prambors/Ipan Fanani)

    Usulan tersebut kemudian disepakati pemerintah, akan tetapi dianggap kurang memiliki esensi serta nilai histori karena tidak merujuk pada tanggal atau momen tertentu. Maka, di tahun 1964, dalam sidang Kowani yang dilaksanakan di Jakarta, tercetus sebuah ide mengenai kapan tepatnya peringatan Hari Anak Nasional itu.

    Hingga akhirnya Presiden Soeharto mengeluarkan Keppres Nomor 44 Tahun 1984 yang memutuskan bahwa Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli.

    Diperingatinya Hari Anak Nasional Setiap tahun ini seharusnya bisa menyadarkan kita bahwasanya anak-anak sebagai harapan penerus bangsa seharusnya bisa memiliki kesempatan yang sama, baik dalam pendidikan maupun akses untuk bermain.

    Editor Team

    COMMENT