Apa Itu Prank? Jokes yang Bisa Berujung Pidana

Kawula Muda, jangan sampai melakukan prank yang salah, ya!

Video Baim Wong yang Menuai Kecaman (Youtube)
Tue, 04 Oct 2022


Video konten prank yang dilakukan oleh Baim Wong dan Paula Verhoeven saat ini tengah menjadi sorotan. Bahkan konten prank tersebut membuat Baim dan Paula terancam hukuman pidana. Baim dan Paula dituding telah melanggar Pasal 220 KUHP tentang laporan palsu.

Prank telah menjadi salah satu konten favorit para konten kreator yang akhirnya diimitasi oleh penontonnya. Sebenarnya, apa itu prank? bagaimana prank ini berawal? Simak selengkapnya di bawah ini!

Apa itu prank?

Menilik dari istilah Inggris-nya, prank diambil dari kata ‘practical joke’ atau yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti ‘lelucon praktikal atau terapan.’. Prank kerap disebut dengan practical jokes alias humor praktik karena selalu ada aksi dalam prank.

Menurut Cambridge Dictionary, prank adalah sebuah trik yang dimaksudkan untuk melucu, namun tidak untuk menyebabkan kerugian atau kerusakan.

Prank lalu semakin berkembang sehingga diartikan menjadi sebuah trik nakal yang dilakukan pada seseorang dan umumnya menyebabkan korban merasa malu, kebingungan, hingga tidak nyaman.

Orang yang melakukan lelucon ini biasanya disebut dengan ‘practical joker’ atau ‘prankster’.

Prank seharusnya adalah tindakan yang dilakukan untuk mengundang tawa, namun kebanyakan justru mengundang kontroversi.

Kapan prank dimulai?

Secara etimologi, istilah practical jokes atau prank pertama kali digunakan pada 1804. Sebelum itu, lelucon atau candaan sejenis disebut dengan handicraft joke. Prank sering kali dikaitkan secara budaya dengan April Mop atau April Fools Day.

Sejumlah literatur mengaitkan awal keberadaan prank dengan sejarah perayaan April Mop. Menurut National Post, prank disebutkan telah lahir pada penghujung abad ke-13, tepatnya pada 1392.

Dalam versi lain disebutkan bahwa April Mop lahir pada abad ke-16, ketika kalender Gregorian diperkenalkan. Saat itu, orang-orang lambat menerima berita pembaharuan kalender dan gagal mengenali kalau awal tahun baru telah pindah ke 1 Januari.

Akibatnya, banyak orang yang terus merayakan tahun baru selama minggu terakhir pada bulan Maret hingga 1 April. Perayaan yang keliru itu akhirnya dijadikan lelucon hingga lahirlah istilah ‘April Fools’ atau ‘orang-orang bodoh bulan April’.

Melansir dari History, April Mop yang biasanya dirayakan setiap 1 April memiliki asal-usul yang hingga kini masih menjadi misteri.

Prank yang sukses ‘menipu’ banyak orang

Terlepas dari perbedaan kapan April Mop dimulai, yang jelas perayaan itu telah membuat banyak orang mulai menciptkan berbagai macam banyaolan. Salah satu prank yang paling terkenal dalam sejarah adalah yang dibuat oleh stasiun televisi Swedia.

Dalam acara tersebut pihak stasiun televisi mengatakan bahwa mereka akan membocorkan rahasia teknologi yang disimpan. Mereka lalu meminta orang-orang untuk menutup layar televisi hitam putihnya dengan kain nilon, karena nanti setelah dibuka tampilan televisi akan berubah jadi berwarna. Namun, tentu saja itu hanyalah prank. Banyolan itu sukses menipu ribuan orang Swedia secara massal.

Prank lainnya yang cukup terkenal adalah yang dibuat oleh pihak stasiun televisi BBC pada 1957. Saat itu, pihak BBC menayangkan adegan seorang lelaki tengah memanen spageti dari pohon dan mengajarkan penonton bagaimana cara menanam pohon spageti. Prank yang juga berlangsung sukses pernah dilakukan BBC ketika mereka mengklaim bahwa jam Big Ben di London, Inggris akan berubah menjadi jam digital pada 1980.

Pada 1985, penulis Sports Illustrated, George Plimpton, menipu banyak pembaca ketika dia menulis artikel tentang seorang pelempar pemula bernama Sidd Finch yang bisa melempar bola cepat lebih dari 168 mil per jam. Lagi-lagi, itu hanyalah prank.

Prank bisa berujung pidana

Prank saat ini kerap digunakan oleh YouTuber dalam membuat kontennya. Namun, sebenarnya praktik prank harus mengacu pada hukum agar tidak terjadi penghinaan, pencemaran nama baik, kebohongan, ataupun pemalsuan.

Walaupun bertujuan untuk bercanda, prank dapat merugikan orang lain. Apalagi, prank adalah tindakan mempermainkan orang lain sehingga orang tersebut terlihat bodoh. Makanya harus tahu batas dalam melakukan prank. Karena kalau tidak, prank bisa berbahaya dan merugikan banyak orang.

Sayang, kini prank banyak dilakukan dengan cara yang salah dan tidak lagi menghibur.

Berita Lainnya