Program Unggulan

Prambors menyediakan beragam program untuk menemani hari-hari anda

    Feb 19 2021

    Film “Music” Karya Sia Dipetisi Agar Dicabut dari Nominasi Golden Globe, Kenapa?

    Kawula Muda, isu yang sensitif muncul lagi nih.

    Penyanyi asal Australia, Sia. (INSTAGRAM)

    Musisi asal Australia, Sia Furler alias Sia, baru saja debut sebagai seorang sutradara film dengan merilis film drama musikal berjudul Music.

    Film itu pertama rilis di Autralia pada 14 januari 2021 dan baru tayang di Amerika Serikat pada 12 Februari 2021.

    Belum lama rilis, film tersebut justru menuai polemik. Sebuah petisi diluncurkan agar film itu dicabut dari daftar nominasi ajang penghargaan Golden Globe Awards.

    Petisi itu dibuat oleh pendukung autis bernama Rosanna Kataja dan seorang penderita autis bernama Nina Skov Jensen.

    Alasannya adalah karena film Music dianggap berbahaya bagi komunitas autisme dan tidak merepresentasikan kaum autis secara benar.

    Terhitung hingga Jumat (19/02/2021) pagi WIB, petisi yang muncul di change.org itu telah mendapatkan lebih dari 80.000 tanda tangan. 

     

    Sebelumnya, film Music diumumkan mendapat dua nominasi di Golden Globe Awards di kategori Best Motion Picture Musical or Comedy dan Best Actress in a Motion Picture Musical or Comedy.

    Dalam film tersebut terdapat satu tokoh yang digambarkan sebagai gadis autis bernama Music Gamble, yang diperankan oleh aktris Maddie Ziegler.

    Menurut pembuat petisi, meski Sia mengklaim bahwa filmnya dibuat sebagai bentuk cinta untuk komunitas autisme, film itu justru tidak bisa dinikmati oleh kaum autis bahkan cenderung berbahaya.

    “Sia mengklaim bahwa film tersebut adalah 'surat cinta untuk komunitas autisme', namun segmen musiknya dipenuhi dengan lampu yang berkelap-kelip, warna-warni, suara yang keras, dan gerakan kamera yang cepat, yang mana itu menyebabkan overstimulasi,” kata Nina dan Rosanna dalam petisi itu.

    “Sekitar 1 dari 4 orang autis mengidap epilepsi, jadi film itu bisa menyebabkan kejang (bagi penderitanya) dan juga sangat tidak nyaman bagi mereka yang tidak menderitanya. Meskipun film itu dibuat 'untuk' orang autis, sebagian besar dari kami (justru) tidak dapat menontonnya,” ujar mereka lagi.

    Mereka juga menganggap bahwa akting Maddie Ziegler sebagai seorang autis tidak mewakili kaum autis secara benar. Aktingnya dalam film tersebut disebut hanya meniru orang autis berdasarkan stereotip yang berkembang di masyarakat .

    Menurut mereka, seharusnya Sia melibatkan orang autis untuk bermain dalam film tentang orang autis, agar gambaran tentang orang autis itu bisa tersampaikan dengan akurat.

    “Jika kita lihat penggambaran Maddie Ziegler, dia hanya meniru orang autis secara stereotip, seperti orang autis yang sering dibully dan diejek sepanjang hidup mereka,” bunyi potongan petisi tersebut.

    “Hal itu juga memperkuat gagasan yang menganggap bahwa orang autis tidak cukup baik (untuk bermain film), dan autisme ala mereka lebih baik digambarkan oleh seseorang yang tidak memiliki konsep tentang apa itu menjadi autis,” kata mereka menambahkan.

    Editor Team

    COMMENT