F*ck The Patriarchy! Taylor Swift Angkat Bicara tentang Seksisme di Industri Musik

F*ck the Patriarchy! Keychain on the ground… we were always skipping town~

Taylor Swift, penyanyi dan pencipta lagu asal Amerika. (TWITTER/TAYLOR SWIFT)
Tue, 24 May 2022


Pada salah satu lirik lagu populernya 'All To Well' (10 Minute Version), Taylor Swift sempat menyinggung terkait budaya patriarki yang seharusnya tidak dipertahankan. 

Rupanya, Taylor telah bersuara terkait seksisme di industri musik sejak bertahun-tahun lalu. Pada 2019 lalu, lewat wawancara dengan Vogue ia mengakui sempat tidak menyadari ketimpangan gender tersebut. 

Penyanyi Amerika Serikat, Taylor Swift, saat menghadiri Grammy Awards 2021. (INSTAGRAM/RECORDING ACADEMY)

 

“Saya sering mendengar orang lain berbicara tentang seksisme di industri musik, dan saya seperti: Saya tidak melihatnya, saya tidak mengerti,” tuturnya. Ia pun menjelaskan bahwa tidak menyadari seksisme tersebut karena masih muda dan baru saja meniti karier di dunia musik. 

“Pria di industri (musik) melihat saya sebagai seorang anak. Saya adalah seorang gadis muda yang kurus, kecil, dan terlalu bersemangat sehingga mengingatkan mereka kepada keponakan kecil maupun putri mereka dari pada seorang wanita sukses ataupun partner.”

Namun, Taylor menjelaskan setelah bertahun-tahun bermusik, ia merasa orang-orang mulai memandangnya secara ‘berbeda’. Ia bukan lagi seorang anak muda lugu yang memiliki beberapa lagu hits saja. 

“Tapi di detik ketika saya menjadi lebih tangguh? Segera setelah saya mulai menyanyi di stadion, ketika saya mulai terlihat seperti ‘wanita dewasa’, mereka tidak lagi melihat saya seperti sebelumnya,” tambah Taylor. 

Jauh sebelumnya, tepatnya pada 2015 lalu saat ia baru merilis single 'Bad Blood', Taylor juga sempat menyinggung terkait standar ganda yang ia alami. Misalnya ketika menulis lagu tentang cinta dan patah hati.

“Seorang pria yang menulis tentang perasaannya dari tempat yang rentan adalah seorang pemberani. Namun, seorang wanita yang menulis tentang perasaannya dari tempat yang rentan adalah terlalu banyak berbagi atau cengeng,” tutur Swift pada saat wawancaranya dengan Maxim. 

Terpisah, Taylor juga mencontohkan perbedaan perlakuan yang pernah ia alami. “Seorang pria yang melakukan sesuatu, itu strategis. Seorang wanita melakukan sesuatu, ia adalah seorang yang perhitungan. Seorang pria diperbolehkan untuk bereaksi, tetapi seorang wanita hanya dapat bereaksi secara berlebihan,” tuturnya saat wawancara dengan CBS Sunday Morning. 

Pada Desember 2019, Taylor juga menyerukan hal serupa pada pidatonya saat dianugerahi ‘Woman of the Decade’ oleh Billboard. 

“Perempuan ditahan oleh standar yang sangat tinggi, dan bahkan tidak mungkin untuk pernah diraih siapa pun,” tuturnya.

Beberapa kali menjadi korban dari seksisme di industri musik tidak membuat Taylor Swift 'mengalah' dari keadaan. Buktinya saja, penyanyi asal Pennsylvania, Amerika Serikat ini terus berkarya sampai membuahkan 9 studio album dan baru saja dinobatkan sebagai Doktor kehormatan dari New York University.

Berita Lainnya